Sabtu, 10 April 2010 - 22:46:50 WIB
Kisah dalam buku Komplikasi
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 55743 kali

KETIKA DOKTER BERBUAT SALAH

Kesalahan adalah sesuatu yang wajar terjadi, tetapi sering dipandang sebagai suatu penyimpangan. Padahal, sama sekali bukan. Dan SEMUA dokter pasti PERNAH melakukan KESALAHAN (halaman 73).

Ada banyak kecelakaan bedah, salah satunya adalah tertinggalnya sebuah alat bedah dari logam yang besar di perut pasien oleh seorang dokter bedah umum, yang kemudian melukai usus dan dinding kandung kemih. Dalam kasus lain, seorang ahli bedah kanker melakukan biopsy kanker payudara pada sisi yang salah sehingga diagnosisnya tertunda berbulan-bulan. Seorang dokter bedah jantung lupa mengerjakan satu langkah kecil, tetapi sangat penting, dalam operasi katup jantung sehingga pasiennya meninggal. Seorang dokter bedah umum kedatangan pasien yang terseok-seok karena sakit perut di UGD, lalu tanpa payaran CT ia memastikan bahwa nyeri itu disebabkan oleh batu ginjal; delapan belas jam kemudian, payaran CT memperlihatkan aneurisma aorta yang pecah dan pasiennya meninggal tak lama kemudian (halaman 73).

Tahun 1991, New England Journal of Medicine menerbitkan tulisan hasil Kajian Kedokteran Harvard (mengenai 30 ribu lebih pasien di New York). Empat persen menderita komplikasi pengobatan yang berakibat lebih lamanya pasien di rawat, berakibat cacat, atau kematian. Ditemukan juga dua pertiga dari semua komplikasi itu terjadi akibat kesalahan pelayanan medis. Di seluruh Amerika, 44 RIBU pasien MENINGGAL setiap tahunnya disebabkan, antara lain, oleh kesalahan medis. Pada sebuah penelitian kecil pada pasien henti jantung, terbukti bahwa 27 dari 30 dokter melakukan kesalahan dalam menggunakan alat defibrillator- misalnya salah mengisi baterainya atau terlalu lama memikirkan bagaimana cara menggunakan model tertentu. Penelitian tahun 1995, kesalahan dalam memberikan obat- misalnya memberikan obat yang salah atau salah dosis- terjadi rata-rata sekali pada setiap pasien rawat inap, 1 persen diantaranya menimbulkan dampak buruk (halaman 74).

Kesalahan bisa menumbuhkan keraguan dan melunturkan rasa kepercayaan diri. Tetapi yang lebih buruk daripada kehilangan kepercayaan diri adalah bersikap defensif. Ada saja dokter bedah yang dapat melihat kesalahan orang lain, kecuali kesalahan dirinya. Mereka tak pernah mempertanyakan ataupun takut oleh keterbatasanya. Akibatnya mereka tidak belajar apa-apa dari kesalahan yang dibuatnya dan tidak tahu letak kekurangannya, dan berpeluang besar mencelakakan pasien (halaman 80).

"Tanggung jawab pribadi terhadap perbuatan salah adalah kebajikan yang tidak ringan. Upaya apapun yang dilakukan, dokter kadang-kadang lemah, tidaklah wajar kalau ia dituntut untuk sempurna. Yang patut dituntut darinya adalah meminta para dokter untuk tidak putus-putusnya berusaha menuju kesempurnaan" (halaman 94).




0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)