Sabtu, 10 April 2010 - 22:46:50 WIB
Kisah dalam Buku Komplikasi
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 7095 kali

MENGUASAI KEAHLIAN


Seorang pasien berada dalam masa pemulihan setelah pembedahan perut minggu sebelumnya. Ususnya belum berfungsi sehingga membutuhkan makanan yang akan dipasok melalui vena kava.

Ada sedikit resiko pada prosedur pemasangan infus sentral ini, misalnya perdarahan dan paru menguncup. Menurut catatan berbagai bencana pernah terjadi : seorang perempuan meninggal setelah perdarahan berat akibat vena kava yang robek, seorang lelaki yang terpaksa dibuka dadanya karena jarum penusuknya lepas didalam dan mengalir ke jantung; seorang lelaki yang mengalami henti jantung karena tindakan itu menyebabkan fibrilasi ventrikel.

Percobaanku yang kedua untuk memasang infus sentral tidak lebih baik dari yang pertama. Ketika beberapa hari kemudian aku gagal untuk ketiga kalinya, aku mulai dirundung keraguan. Kembali, kutusuk dan tusuk lagi, tapi tak kutemukan vena itu. Namun akhirnya aku berhasil pada percobaan berikutnya (Halaman 31 dan 32).

Dalam ilmu bedah, ketrampilan dan kepercayaan diri dibangun melalui pengalaman- baik pengalaman yang penuh keraguan maupun pengalaman yang memalukan. LATIHAN (atau pengalaman) membuat ketrampilan menjadi SEMPURNA. Dalam memasang infus sentral : Ambil jarum, tusuk dada itu, rasakan bergeraknya jarum- menyusup ringan di jaringan lemak, sedikit tertahan di ketebalan otot, kemudian terasa plong karena jarum menembus dinding vena- dan jarum itu berhasil masuk vena. Pada saat yang demikian, yang dirasakan bukan hanya lega, tetapi INDAH SEKALI. Pendidikan bedah adalah pengulangan semua kejadian itu- tindakan kikuk disusul keberhasilan, diikuti pengetahuan dan terkadang disusul tindakan mengagumkan- begitu berkali-kali, semakin sulit tugasnya semakin besar resiko yang harus dihadapi.

Para ahli bedah percaya bahwa ketrampilan dapat diajarkan, sedangkan kegigihan tidak. Ini memang cara merekrut yang aneh, tetapi begitulah yang selalu terjadi di departemen bedah yang paling BERGENGSI sekalipun. Mereka menerima para calon tanpa pengalaman bedah, melatihnya selama bertahun-tahun, kemudian menjadikan mereka bagian dari timnya.

Pada awalnya hanya mengerjakan hal-hal dasar : bagaimana cara memasang sarung tangan atau gaun bedah, bagaimana membatasi lapangan bedah (bagian tubuh yang akan dibedah), bagaimana memegang pisau, bagaimana mengunci jahitan. Kemudian tugas yang lebih menyeramkan : bagaimana menyayat kulit, memegang alat pembakar pembuluh (solder), membuka dada, mengikat pembuluh darah yang bocor, mengangkat tumor, menutup luka bedah.

Setelah enam bulan mengerjakan : pemasangan infus, mengangkat usus buntu, melakukan cangkok kulit, operasi hernia, dan operasi payudara. Pada akhir tahun pertama melakukan : amputasi kaki, biopsy kelenjar limfa, dan operasi wasir. Pada akhir tahun kedua melakukan : trakeotomi, beberapa operasi usus kecil, dan operasi kandung empedu secara laparoskopi. Selanjutnya memperbaiki pembuluh aorta yang melembung, mengangkat pancreas, membuang sumbatan di pembuluh karotis.

Dengan berlatih dan berlatih terus seorang dokter bedah dapat melakukan itu semua. Berlatih memang menakjubkan. Dari hari ke hari berlatih mengerjakan satu demi satu pekerjaan itu, lalu suatu kali akhirnya menguasai semuanya. Pembelajaran secara sadar akan berubah menjadi refleks (otomatis) tanpa kita ketahui bagaimana perubahan itu terjadi. Namun suatu situasi atau masalah baru biasanya memerlukan pikiran sadar dan cara penyelesaian tertentu yang lebih lambat terbentuknya, lebih sulit dikerjakan, dan lebih rentan kecelakaan / kesalahan / error.






0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)