Sabtu, 10 April 2010 - 22:46:50 WIB
Kisah Dalam Buku Komplikasi
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 3860 kali

KETIKA DOKTER BAIK MENJADI DOKTER BURUK

Sebut saja HG, adalah mantan dokter bedah tulang. Dia dapat mengerjakan operasi tulang dengan sangat mantap dan dengan cara yang terbaik. Selama lebih dari sepuluh tahun, ia adalah salah satu dokter paling sibuk di negara bagiannya.

Tapi dalam perjalanan kedokterannya, mulai terjadi hal-hal yang tidak beres. Kerjanya mulai tidak memuaskan, ia jadi ceroboh. Banyak pasien menjadi cidera, beberapa diantaranya cidera cukup parah. Teman sejawat yang tadinya mengaguminya mulai tidak menyukainya. Namun, baru setelah hal itu berlangsung bertahun-tahun, akhirnya ia dilarang praktek lagi.

Mr. HG telah berubah menjadi dokter yang buruk. Dalam dunia kedokteran, dokter yang buruk semacam itu segera dapat dikenali misalnya : ahli jantung terkemuka yang berangsur-angsur mulai pikun dan tak mau pensiun; ahli kandungan yang dulu dihormati dan punya kebiasaan minum-minuman keras; ahli bedah yang entah kenapa menjadi tidak piawai lagi.

Biasanya Mr. HG menikmati kerjanya di kamar bedah, menangani pasien. Namun semuanya menjadi serba salah dalam beberapa tahun terakhir, ketika ia terpaku pada statusnya sebagai pencetak uang nomor satu (Si Producer) sehingga yang ia pikirkan hanyalah bagaimana menyelesaikan semua pasien itu secepat mungkin. Ia menangani TERLALU banyak pasien. Betapapun ia berusaha untuk tetap bertahan untuk menangani begitu banyak pasien, masalah yang tidak dapat diramalkan mulai bermunculan. Akhirnya ia menyadari bahwa semua itu tidak tertanggungkan lagi. Tak diragukan lagi, saat itulah muncul bahaya. Kedokteran membutuhkan ketegaran menghadapi segala sesuatu : jadwal seorang dokter mungkin memang padat, jam kerja sampai larut malam, bila ada masalah, dokter harus melakukan hal yang perlu dilakukan. Berkali-kali Goodman tidak mampu melakukan itu.

Kelelahan mental ini, anehnya, sesuatu yang biasa terjadi. Seorang dokter dituntut untuk lebih tegar, sigap, lebih mampu menghadapi tekanan dibandingkan dengan orang pada umumnya. Tapi bukti penelitian menunjukkan sebaliknya. Misalnya, jumlah dokter yang peminum alcohol tidak lebih sedikit dibandingkan dengan kalangan lain. Dokter lebih sering ketagihan menggunakan narkotik dan penenang. Sekitar 32 persen masyarakat pekerja umum mengalami setidaknya sekali gangguan mental serius (seperti depresi, mania, gangguan panik, psikosis, atau ketergantungan obat) dan tidak ada bukti bahwa gangguan seperti itu lebih jarang terjadi di kalangan dokter. Dan tentu saja, dokter pun bisa sakit, jadi tua, dan dipengaruhi oleh kesulitan mereka sendiri, dan karena alasan itu dan alasan sejenis itu lainnya, mereka dapat memberikan layanan yang salah kepada pasiennya. Pada suatu masa, diperkirakan sekitar 3 sampai 5 persen dari dokter yang berpraktek sebenarnya tidak layak menerima pasien, (halaman 116).

“Kita semua berada di tangan manusia yang dapat berbuat salah. Kenyataannya sulit untuk dihadapi, tetapi tidak dapat dihindari. Setiap dokter harus menguasai hal-hal yang memang sepatutnya dikuasainya, tetapi belum dipelajarinya, memiliki kemampuan untuk menilai yang ternyata salah, memiliki karakter kuat yang dapat hancur. Apakah aku lebih kuat dari orang ini sekarang? Lebih handal? Lebih waspada? Sadar dan bersikap hati-hati atas kelemahanku sendiri? Aku ingin begitulah keadaannya- dan mungkin aku harus berpikir begitu untuk dapat menjalankan (profesi dokter) yang kulakukan sehari-hari.” (halaman 130).




0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)