Sabtu, 10 April 2010 - 22:46:50 WIB
Narkotika Kebudayaan
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 143685 kali

Aku pernah baca bukunya Emha Ainun Nadjib judulnya Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki. Dalam buku itu ada banyak sekali subjudul, salah satunya : Narkotika Kebudayaan.

Menurut Emha, “narkotika” pertama-tama dipahami sebagai kebohongan atau penipuan pada diri sendiri melalui sejumlah metode narkosisme ataupun eskapisme. Narkotika adalah fungsi-fungsi ilusif yang menggerogoti sensibilitas dan daya obyektifitas seseorang. Narkotika adalah formula takhayul (pengkhayalan) dengan efek destruksi biologis dan psikologis.

Kebohongan, penipuan dan ilusi adalah kasus psikologis yang menyangkut akal budi, nurani dan system kehendak seseorang. Perangkat yang dipakai untuk menimbulkan efek narkosis (narcotizing function) seperti itu tidak hanya bersifat material (berupa produk-produk psikotropika), melainkan juga immaterial (bisa berupa filsafat, racikan-racikan budaya: kesenian , mode, politik, konsumtifisme hingga pola kolektif sehari-hari).

Budaya narkotika bukan monopoli kaum muda, bukan milik jaringan anak-anak yang disoriented yang tidak bahagia dan nothing to do. Namun hakekat kenyataan narkotika (sebagai formula takhayul/pengkhayalan yang destruktif dari kehidupan masyarakat) terjadi pula dalam kehidupan budaya dalam skala luas dan penuh ragam.

Misalnya, hedonisme : suatu pola, gaya , standar konsumsi dan simbolisasi perilaku kehidupan bermuatan keberlebihan dan kecenderungan artificial : ia potensial terhadap narcotizing function.

Pada dasarnya, menurut Emha, budaya narkotika adalah bentuk kekalahan manusia oleh sejumlah hal yang menimpanya. Mungkin kekalahan mental yang berlaku pada pribadi-pribadi. Kekalahan dalam pertarungan melawan problem-problem, ketidaksanggupan menemukan solusi dan perlawanan, sehingga ia lari menjauhinya.

Pada kasus narkotika hedonisme, kekalahannya pada keadaan bahwa seseorang diperbudak oleh apa-apa yang ia miliki. Bahwa ia tidak memiliki (menguasai) benda-benda itu, melainkan dimiliki, dihanyutkan, ditentukan segala sesuatunya oleh benda-benda itu.

Bentuk kekalahan lain mungkin lebih luas. Kekalahan atau pelarian dari problem makro, membuat sebagian masyarakat mengasyiki sejumlah mass consumption, bisa berupa kesenian-kesenian kontemporer yang berlaku, kebiasaan-kebiasaan yang artificial dan dicari-cari, atau gelombang dunia mode di hampir semua sisi perilaku hidup.

Jangan lupa, budaya mobilisasi dalam arti luas di dunia perpolitikan, sering juga memakai formula-formula narkotika kultural. Pun dikalangan kaum terpelajar, ada jenis narkotika kultural di mana intelektualisme dan kesuntukan akademis menjadi alat pelarian dari ketidakmampuan mengatasi persoalan-persoalan sejarah. Juga banyak ketidaksengajaan kaum pemeluk agama yang asyik masyuk dengan tradisi-tradisi (misalnya tarekat) tertentu. Dalam hal ini pun ada potensi narkotik kultural didalamnya.

Narkotika medis, materialisme berlebih, hedonisme, dan konsumtivisme yang tak mengerti batas, serta tipe pemelukan agama yang eskapistik, merupakan salah satu bukti dekadensi kebudayaan masyarakat modern.

Itu kata Emha. Mudah-mudahan bulan ramadhan yang akan datang bisa menjadi "pembakar" / pemusnah efek-efek negatif dari "narkotika-narkotika" kebudayaan tersebut sehingga bisa mengembalikan keluhuran masyarakat Islam modern ke derajat yang paling mulia. (Ramadhan berasal dari kata Ramadho yang berarti membakar dosa).




1 Komentar :

clarks femme pas cher
25 November 2017 - 18:04:24 WIB

Hey there! Would you mind if I share your blog with my facebook group?
There's a lot of people that I think would really enjoy your
content. Please let me know. Thanks
<< First | < Prev | 1 | Next > | Last >>
Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)