Sabtu, 10 April 2010 - 22:46:50 WIB
Ajaran Jawa tentang Jodoh
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 1264 kali

Sumber, Buku : Tata Cara Penyelenggaraan Perkawinan Adat Jawa, M. Hariwijaya, hal:6-14

Pesta perkawinan yang meriah, pada zaman dahulu hanya dilakukan oleh para bangsawan, khususnya raja. Para bangsawan atau priyayi itu sangat jlimet dalam menentukan jodoh bagi anaknya. Mereka mempertimbangkan bibit, bebet dan bobot. Bibit adalah factor darah dan keturunan. Bebet adalah factor status social mempelai dan keluarganya. Sedangkan bobot adalah factor harta benda.

Pada MASA LALU, hal ini sering ditafsirkan bahwa laki-laki dari kaum ningrat, harus berjodoh dengan putri ningrat pula. Keluarga kaya harus berjodoh dengan keluarga yang berharta pula. Tujuannya adalah demi kebaikan kedua mempelai dikelak kemudian hari. Sayangnya, hal ini sering diberi embel-embel gengsi dan harga diri keluarga. Pengantin putri yang latar belakang social ekonomi lebih tinggi dari pengantin laki-laki, pada masa lalu sering diibaratkan malang gambuhi. Walang gambuh adalah sejenis belalang yang betinanya jauh lebih besar daripada jantannya.

Namun hal ini SEKARANG mulai MELUNTUR dibasuh oleh tatanan social yang berubah. Factor CINTA dan KESESUAIAN BATINIAH kedua mempelai lebih menentukan. Orang tua pada zaman modern ini jarang ada yang menjadi penentu utama bagi jodoh anaknya. Mereka secara demokratis menyerahkan urusan jodoh kepada anaknya sendiri. Orang tua hanya tinggal menyetujui dan merestui.

Dalam pandangan orang Jawa, jodoh merupakan salah satu rahasia Allah. Sebuah idiom mengatakan : siji pesthi, loro jodho, telu tibaning wahyu, papat kodrat, lima bandha, iku saka kersaning Hyang kang Murbeng Dumadi. Artinya satu maut, dua jodoh, tiga turunnya wahyu, empat kodrat, dan kelima harta, itu adalah kehendak Tuhan yang Menciptakan Alam Semesta. Jodoh dalam idiom di atas merupakan rahasia kehidupan yang semua manusia tidak mengetahui seperti halnya kematian. Ki Narto Sabdo, seorang dalang wayang kulit merumuskan bahwa : Kridhaning ati ora bisa mbedhah kuthaning pesthi, budi dayane menungsa ora bisa ngungkuli garise Kang Kuwasa. Artinya gejolak hati tidak bisa merubah kepastian, budi daya manusia tidak bisa melebihi takdir Tuhan Yang Maha Kuasa.

Oleh karena itu, ketika jodoh sudah menghampiri, maka pantaslah bila disambut dengan gembira hati atas anugerah Tuhan tersebut. Betatapun kehadirannya dalam lingkungan keluarga kita adalah baru. Hal ini hanya perlu penyesuaian baik bagi kita, bagi dia, bagi keluarga besar kita.




131 Komentar :

obat herbal darah tinggi manjur
17 Maret 2014 - 08:40:43 WIB

obat herbal darah tinggi manjur http://goo.gl/MXsGNK
obat demam berdarah tradisional
17 Maret 2014 - 09:06:47 WIB

obat demam berdarah tradisional http://goo.gl/CNmkf6
obat penyakit radang paru paru alami
17 Maret 2014 - 09:15:56 WIB

obat penyakit radang paru paru alami http://goo.gl/aOJJRY
obat jerawat tradisional
17 Maret 2014 - 09:26:43 WIB

obat jerawat tradisional http://goo.gl/BDFm4L
obat penurun trigliserida tinggi alami
17 Maret 2014 - 09:35:55 WIB

obat penurun trigliserida tinggi alami http://goo.gl/6LqwiX
obat herbal cacar air semua usia
17 Maret 2014 - 09:45:24 WIB

obat herbal cacar air semua usia http://goo.gl/E9Jl2y
obat penyakit pendarahan lambung
17 Maret 2014 - 09:56:39 WIB

obat penyakit pendarahan lambung http://goo.gl/JGoz19
penyakit thalasemia
17 Maret 2014 - 10:05:53 WIB

penyakit thalasemia http://goo.gl/3rLggO
obat herbal hepatitis B manjur
17 Maret 2014 - 10:16:46 WIB

obat herbal hepatitis B manjur http://goo.gl/2vxQce
obat herbal luka bekas operasi caesar manjur
17 Maret 2014 - 10:36:39 WIB

obat herbal luka bekas operasi caesar manjur http://goo.gl/JItnpq
<< First | < Prev | 1 | 2 | 3 | ... | 14 | Next > | Last >>
Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)