Sabtu, 10 April 2010 - 22:46:50 WIB
Trompet Bidadari
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 6674 kali

Sumber, Buku : 111 Kolom Bahasa Kompas (halaman 241-243)

Sudah berulang kali dalam kolom bahasa ini saya mengeluhkan keadaan bahasa Indonesia yang dengan begitu dahsyat dipengaruhi bahasa Inggris masa kini. Supaya tak terlalu menjemukan pembaca, pada kesempatan ini akan saya bela penggunaan bahasa Internasional.

Titik awal untuk usaha ini ialah bahasa bunga. Pada abad ke-18 ilmuwan ternama Swedia CARL VON LINNE mengatur dan menggolongkan segala tumbuhan ke dalam sebuah system yang sangat berguna dan masih terpakai di seluruh dunia. System ini dikedepankan dalam bukunya SYSTEMA NATURAE ketika Linne berumur 28 tahun. Setelah itu ilmuwan muda ini menghabiskan usianya dengan mengumpulkan tumbuhan dari seluruh dunia supaya dapat diklasifikasikan dalam system yang telah ia kembangkan itu.

Seperti sudah diisyaratkan judul karya Linne tadi, peneliti tumbuhan ini menulis dalam bahasa Latin. Seperti diketahui setiap pecinta bunga, bahasa Latin tetaplah bahasa internasional dalam dunia tumbuhan. Von Linne sendiri memakai bahasa petani dengan para petani, menggunakan bahasa Latin dengan para cendekiawan.

Meskipun bahasa Latin dapat dikatakan merupakan bahasa internasional dalam bidang ini, bahasa-bahasa local pun dipakai. Ini berarti bahwa setiap tumbuhan memiliki setidaknya dua nama dalam setiap lokasi geografis. Maka, si tinggi kuning tidak saja disebut Helianthus annus di Indonesia, tapi juga disebut bunga matahari. Di Swedia kami sebut mawar matahari (solros) entah kenapa.

Selanjutnya, Capsicum annuum disebut cabai di Indonesia, sedangkan di Swedia ia seringkali diberi nama merica spanyol (spansk peppar) ataupun chili yang terkesan lebih modern. Yang disebut kecubung gunung di Indonesia, yaitu Brugmansia svaveolens yang dapat berguna untuk pelbagai jamu, kami sebut TROMPET BIDADARI (anglatrumpet). Bunganya yang besar memang mirip trompet dan secara keseluruhan tumbuhan ini seolah-olah tak sepenuhnya duniawi.

Kemudian nama Indonesia dan Swedia untuk Allium schoenoprasum cukup mirip. Di Indonesia bumbu ini disebut bawang daun, sedangkan di Swedia ia disebut bawang rumput (graslok). Saudara bumbu ini, Allium tuberosum, disebut kucai di Indonesia, sedangkan kami menyebutnya bawang rumput cina (Kinesisk graslok). Sebuah bumbu enak lainnya kami sebut rumput jeruk (citrongras), sedangkan orang Indonesia menyebutnya serai. Nama Latinnya Cymbopogon citrates.

Nah, walaupun nama-nama tumbuhan yang dipakai dalam bahasa Indonesia dan bahasa Swedia (yang merupakan bahasa umpama di sini) seringkali sangat saling berbeda, dua orang pecinta bunga dari kedua Negara ini tetap dapat berkomunikasi secara bermakna melalui nama-nama Latin. Enaknya punya bahasa internasional yang dengan begitu ketat dan teratur dipakai di dunia tumbuhan tak dapat diremehkan, dan sangat berguna. Meski begitu, dalam bahasa-bahasa local, terutama nama-nama local yang dipakai. Maka, dalam bahasa sehari-hari kita bilang pisang dan bukan Ensete ventricosum, ketumbar dan bukan Coriandrum satrivium.

Bayangkan jika cara memakai dua bahasa –satu local dan satu internasional- begini dapat diterapkan dalam berbagai situasi lainnya pula. Kalau begitu, bahasa Inggris sebagai bahasa internasional bisa mendapatkan peran yang lebih sesuai. Dalam bidang computer, misalnya, akan sangat berguna jika bahasa local secara bersampingan dengan bahasa internasional (Inggris). Sehari-hari bahasa local yang dipakai, sedangkan ketika berhubungan dengan orang dari luar negeri, istilah-istilah Inggris dapat dipakai. Dalam situasi seperti itu, bahasa Inggris dapat berguna dalam komunikasi di antara, misalnya, seorang Indonesia dan seorang Yunani.

Namun ketika seorang Indonesia berbicara dengan seorang saudara, tentu saja bahasa Indonesialah (atau bahasa local lainnya) yang dipakai. Kesimpulannya, bahasa bunga memang merupakan bunga bahasa juga. Mari kita petik kearifannya.




0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)