Sabtu, 10 April 2010 - 22:46:50 WIB
Rintihan Yang Tak Terdengar...
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 26859 kali

Buku, It's Injury Time, hal:81-82

Pagi itu saya tengah terjebak kemacetan di sebuah daerah di Jawa Tengah akibat arus mudik. Daripada suntuk, saya mencoba mengamati keadaan sekeliling. Mata saya tanpa sadar menikmati aktivitas sebuah pasar. Orang sibuk lalulalang berebut tempat dan jalur dengan becak, sepeda, motor, delman. Keadaan terlihat kacau balau.

Tiba-tiba mata saya bersirobok dengan sepasang mata kuda penarik delman. Sejurus kemudian kuda itu tiba-tiba jatuh, menggelepar di aspal panas, merintih dan meronta berusaha bangun kembali. Posisi jalanan yang tak rata membuat tubuhnya rebah ke samping dengan posisi keempat kaki lebih tinggi dari badan dan kepalanya.

Mungkin saya berlebihan. Tapi, saat bertatapan selama beberapa detik tadi, rasanya saya menangkap sorot mata kelelahan dari mata kuda itu. Jika dia bisa bicara, mungkin dia akan berkata seperti ini: Tolong saya….saya lelah, lapar, haus…..Rasanya tidak kuat berdiri lagi….. Sayangnya, dia hanya seekor kuda- yang tak bisa bicara untuk didengar.

Berbahagialah kita yang masih bisa bersuara dan didengar…

Alessandro Del Piero bukan kuda. Dia manusia, dan bukan manusia biasa. Seorang pemain bola brilian, pahlawan bagi timnya, dan sosok penting dalam jatuh bangun klub yang dibelanya. Bahkan dia menjadi mascot kebanggaan klubnya selama beberapa tahun.

Sebagai pemain kunci, pihak Del Piero menganggap gaji 3,2 juta pound per musim itu amat sangat layak dibayar klub. Di sisi lain, pihak klub terang-terangan mengaku tidak bersedia memenuhi permintaan itu. Banyak pihak memprediksi kedua belah pihak bakal menghadapi perpisahan pahit. Tapi, beberapa waktu lalu, akhirnya mereka sepakat untuk tetap berada dalam satu klub. Sang pemain bersedia menerima pemotongan gaji 20%, namun diberi keleluasaan untuk memaksimalkan image rights-nya.

Jika semua pihak mau saling mendengarkan- tidak hanya terpaku pada tuntutan untuk didengarkan- mungkin akan lebih banyak persoalan yang bisa diselesaikan….

Kuda itu memang tidak bisa berbicara. Dia hanya bisa bereaksi dengan tubuhnya. Berjalan kalau dicambuk, berhenti kalau kendali ditarik, belok jika diarahkan- karena kedua matanya ditutup. Tapi, sebenarnya tak ada salahnya jika sang kusir delman lebih peka terhadap kuda piaraannya yang menjadi tulang punggung mata pencahariannya.

Susah memang menjadi peka. Jangankan kepada kuda, kepada sesame manusia saja susahnya minta ampun. Tak ada rumus baku untuk menjadi peka. Satu-satunya jalan adalah dengan sesering mungkin melatih diri untuk lebih memahami orang lain….agar tak ada kuda atau manusia yang tiba-tiba tergelepar karena tak didengarkan….






0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)