kamis, 10 April 2010 - 22:46:50 WIB
Petruk Jadi Raja
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 9013 kali

Sumber, buku : Menuju Indonesia Serba Baru, hal:16-24

Ada lakon wayang Jawa: Petruk jadi raja. Si budak nakal, tukang ngawur, Petruk aneh sekali oleh suatu daya magis mendadak mengalahkan para ksatria penguasa, lalu menjadi raja. Tentu saja raja karikatur konyol sewenang-wenang. Yang akhirnya hanya dapat dikalahkan oleh sang ayah tua bijak Semar, symbol dari segala yang arif dan baik. Komedi serba tak karuan yang jelas bukan ciptaan pujangga istana itu sebenarnya pelambangan universal dari gejala universal juga. Yakni : setiap orang, meski yang tidak pantas sekalipun, sedikit banyak bernafsu ingin jadi raja.

Sejarah bangsa manusia 5000 tahun terakhir telah merekam pentasan sekian ratus kaisar, raja, sultan, sunan, pangeran yang pada awalnya hanya jagoan atau benggol gerombolan penyamun, yang menang dan menang lagi mengalahkan sekian lawan saingan, akhirnya menjadi ningrat, adipati sampai raja. Kemudian dimitoskan sebagai keturunan dewa atau kekasih dewi, bahkan tak jarang mengklaim diri sebagai tuhan pujaan. Kemudian muncullah sekian jenderal, warlord, dictator, presiden kudeta, big boss, presiden-direktur-taipan-taikon, godfather mafia yakusha triad maupun jagoan preman, mandor gali-gali, tetapi juga mandor kecil biasa.

Sampai banyak pakar atau agamawan pun tanpa malu masih saja membeo : selama dunia berputar, akan selalulah ada yang kaya dan ada yang miskin, ada yang menguasai dan yang dikuasai. Ini hokum alam. Yang didukung oleh jenis cendekiawan daulat tuanku, para pujangga istana dan pandita-redi abdi kahyangan para dewa. Apakah sampai seterusnya akan begitu selama matahari terbit dari ufuk timur?

Gelagat tendensi perjalanan sejarah dunia ini kini rupanya mengatakan : tidak. Khususnya dengan datangnya dunia industry massa dan kini pendidikan informal spontan lewat komunikasi massa yang terjangkau sampai dipelosok rimba atau pulau terpencil sekalipun. Sudah menyebar luaslah sebentuk virus amat menular, tetapi dalam arti positif, yang membalikan arah kesadaran bangsa manusia. Memang petruk-petruk model baru di mana-mana masih saja bermunculan dan menuntut atau merekayasa pemujaan diri sebagai tuhan-tuhan modern, mengganti raja-raja tradisional, akan tetapi evolusi kesadaran manusia jelas mengarah ke kiblat membalik dengan koordinat lain.

Ribuan tahun hampir semua tatanegara berbentuk kerajaan. Mulailah tanda-tanda pertama tuntutan partisipasi dan pembagian kekuasaan. Timbullah gagasan dan istilah seperti musyawarah, kemufakatan, demokrasi, konstitusi, parlemen, trias politika, pertanggungjawaban pemerintah, akuntansi, emansipasi, hak azazi, partisipasi, liberalisasi, gerakan kiri, sosialisme, republic, pemilu, free enterprise, free press, academic freedom, kreativitas, inovasi, revolusi, demonstrasi, NGO, LSM, dsb.dsb., yang meski sering belum sempurna bahkan menyeleweng dari inspirasi semula, akan tetapi pada garis besarnya menunjukan suatu arah evolusi kea rah hapusnya sang penguasa raja tunggal de jure atau de facto, maupun raja-raja monopoli, oligarki ataupun nepotism, dan semakin didambanya bukan penguasa, melainkan manusia berwibawa.

Namun manusia berwibawa sejati memang hanya dapat tampil maju jika rakyatnya konsekuen tidak suka pada orang kuasa belaka. Dengan kata lain, tidak bermental jongos, budak, atau babu yang cara hidupnya hanya dapat bertahan dengan menjilat atasan dan menginjak bawahan. Pemimpin siapapun adalah cermin dan pengejawantahan dari mereka yang ia pimpin. Pemimpin korup membuat rakyat korup, tetapi pemimpin korup hanya dapat tampil dari rakyat korup juga. Sebaliknya yang positif juga terjadi. Pemimpin yang baik dan fair play akan mengkatalisasi tumbuhnya rakyat dan masyarakat yang baik serta fair play. Masyarakat yang berbudaya fair play dan berakhlak baik akan melahirkan pemimpin yang baik dan serba main fair play.

Namun dalam suasana gelap jahat tidak mustahil suatu inti perintis pribumi atau generasi baru tumbuh, yang sungguh baru dan yang secara alamiah mengolah secara baru serta lebih baik zaman mereka. Berkat senjata cakra, kata kearifan mitologi. Alias oleh perputaran waktu penuh pengalaman dan hikmah, waktu yang tak terkalahkan oleh penguasa siapapun yang pasti menemui saat kematian mereka masing-masing, kata nalar sehat. Juga dari pertimbangan iman kita yang meyakini perkembangan itu, dan yang dibenarkan oleh fakta-fakta empiris historis. Kecuali bila suatu nasion sudah begitu dibius dan diracuni sehingga terlanjur steril sudah tidak dapat melahirkan generasi baru lagi. Atau ada yang disebut generasi baru akan tetapi factual sudah berjiwa kakek-nenek yang menunggu saat kematian. Saya kira Indonesia belum sampai begitu.






0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)