Kamis, 30 Mei 2013 - 05:46:50 WIB
Memecah Kesepian
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 7084 kali

Sumber, buku : Menuju Partai Orang Biasa, hal:191-195

Tidak Melupakan Sejarah Tragedi Trisakti

Biasanya kita berusaha tertawa. Ada saja sudut pandang yang lucu untuk meringankan beban, untuk menyampaikan pesan yang susah, tapi terutama untuk mencuri kejernihan. Tapi kini kemampuan tertawa sedang habis.

Berdiri pagi setelah kejadian Trisaksi, di tempat di mana beberapa mahasiswa ditembak, rasanya sedih dan sepi. Anak-anak belasan tahun, pada awal masa jaya mereka, nyawanya dicabut oleh tembakan dari belakang. Untuk apa? Mereka di dalam kampus, tidak membuat kerusuhan, bahkan mencari perlindungan. Mereka pejuang reformasi, mengapa karena itu mereka harus ditembak? Bukankah reformasi itu untuk semua, bukan untuk mahasiswa saja? Kalaupun ujung reformasi mengarah pada perombakan pemerintahan, bukankah pemerintahan itu untuk kita semua juga? Apakah kekuasaan dan harta penguasa sekarang itu sepenting itu bagi yang bersangkutan? Hilangnya nyawa yang diciptakan Tuhan tidak mungkin dikembalikan, andaipun dilakukan penyelidikan, tindakan dan penurunan harga BBM.

Rasanya sepi sekali pagi itu di Trisakti, sebelum badai rakyat melanda kota Jakarta. Rasanya tidak ada kawan, walaupun jutaan orang berbela sungkawa atas perginya pahlawan reformasi kita. Sepi memikirkan enam anak muda yang kini sendiri. Siapa kawan kita di pemerintahan sekarang? Tokoh yang tadinya cemerlang, begitu masuk pemerintah menjadi hilang jati diri. Pemimpin kita, untuk sementara hanya kita sendiri.

Perkembangan hari-hari berikutnya memberikan sedikit jawaban. Pemerintah mengizinkan terlevisi dan pers menyajikan liputan yang jelas pada masyarakat, walupun juru penerang pemerintah sendiri tetap samar-samar. Tapi sekarang ada juga kawan yang memecah kesepian. Ini yang bisa kita pegang, karena kita tidak boleh berhenti berharap, bahwa manusia itu pada hakekatnya baik. Atas dasar harapan itu, kita bisa menghilangkan kesepian yang datang bersama tragedy, dengan berbagi rasa, berbagi pikiran, untuk merasa bahwa kita tidak sendiri.

Rakyat sudah sangat amat jelas menyerukan keinginannya : berikan kami pekerjaan, nafkah, tempat tinggal dan terutama perlindungan dari kekuasaan yang kejam. Mahasiswa juga sudah mulai menunjukan jalan, para pakar dan guru besar siap melancarkan reformasi, pengusaha satu dua ingin membangun perekonomian baru yang lebih bersih. Jelas, huruhara dan pembakaran bukanlah pekerjaan mahasiswa. Itu pekerjaan orang yang tidak pernah kita ketahui satu per satu, tapi kita kenal secara keseluruhan sebagai gejala frustasi, kehampaan nilai dan permusuhan.

Perbuatan menjarah dan merusak amat tercela. Tapi keadilan juga menuntut kita mengenal akar keresahan, yaitu ketidakadilan social. Tidak mungkin kejahatan merajalela dalam masyarakat yang lembut. Tidak mungkin rakyat bengis, kalau pemerintah ramah dan adil. Kalau penguasa menyambut ratapan ini, kesepian kita akan berkurang. Kita hanya sepi kalau komunikasi berjalan satu arah. Kalau ada sambung rasa, semua persoalan dapat kita hadapi bersama.

Kesedian presiden ordebaru untuk mengundurkan diri memecah kesepian itu, dengan membesarkan hati kita, bahwa beliau ternyata masih mengerti keinginan rakyat. Sayang ada ralat bahwa maksud beliau tidak persis begitu. Tapi kita tidak punya waktu untuk menafsirkan kata-kata pemimpin, karena kita justru harus menafsirkan keinginan rakyat.

Kita punya konstitusi; kita bisa pakai konstitusi itu untuk mengatur pergantian kepemimpinan nasional. Itu adalah langkah pertama untuk keluar dari kesulitan. Sidang istimewa bisa dengan cepat merumuskan keinginan rakyat setelah pengalaman beberapa bulan terakhir ini, yang membuat kita mengerti kesalahan beberapa puluh tahun.

Sekarang keinginan rakyat sudah jelas, dan apa yang tidak kita mau juga sudah jelas. Kita tidak mau keadaan sekarang berlarut-larut, dimana semua mahal dan semakin langka, rakyat tidak punya kawan di kalangan penguasa, dan harapan perbaikan nafkah tidak ada sama sekali. Tidak ada harapan, kecuali kalau kita mulai melaksanakan reformasi yang telah kita sepakati, dengan pemimpin yang baru, yang member kesejukan dan ketentraman. Jika tidak, setiap hari kita kuatir, bahwa korban bisa jatuh lagi dengan sia-sia.




0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)