Senin, 04 Juni 2013 - 22:46:50 WIB
Financial Check-Up
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 42876 kali

Sumber buku : Tarbiyah Finansial, Hal: 133-144

Salah satu kenikmatan yang setiap hari kita rasakan adalah nikmat sehat. Namun, biasanya sampai sebelum seseorang menderita sakit, urusan kesehatan tidak pernah diperhatikan. Masalah kesehatan memang perlu dinomorsatukan, namun bukan saja harus sehat secara fisik dan mental, tapi kita juga harus sehat secara financial. Masalahnya, orang sering tidak tahu apakah secara financial dia sudah sehat atau malah sakit. Apakah dari waktu ke waktu kondisi keuangannya mengalami kemajuan atau kemunduran.

Seperti kata pepatah, lebih baik mencegah daripada mengobati. Maka mengetahui kondisi keuangan keluarga anda secara berkala akan memberikan arahan kepada anda bagaimana menghindarkan diri dari penyakit-penyakit keuangan.

Untuk mengetahui kondisi kesehatan tubuh kita, maka dari waktu ke waktu kita harus melakukan pemeriksaan kesehatan (general check up). Demikian juga kita sebaiknya melakukan pemeriksaan rutin terhadap kondisi keuangan kita atau financial check up secara rutin, minimal setahun sekali.

Secara umum, pemeriksaan kondisi keuangan dilakukan dengan menghitung perbandingan-perbandingan tertentu antara harta dengan utang, antara pemasukan dengan pengeluaran, dan lain-lain. Selanjutnya, hasil perhitungan tersebut dibandingkan dengan ukuran standar kesehatan keuangan keluarga. Apakah hasil penilaiannya di bawah atau di atas standar tentunya akan menjadi dasar kesimpulan kondisi kesehatan keuangan keluarga.

Berikut adalah berbagai alat, cara, atau standar pengukuran yang bisa anda pakai untuk mengetahui tingkat kesehatan keuangan keluarga anda :

1. Penghasilan

Untuk menilai apakah penghasilan kita bretumbuh atau tidak, dibutuhkan pengukuran tingkat pertumbuhan penghasilan. Tujuannya adalah untuk menilai apakah faktanya penghasilan kita bertumbuh atau menurun dibandingkan laju inflasi. Tingkat pertumbuhan penghasilan bisa dihitung dengan rumusan sebagai berikut :

{(penghasilan tahun ini penghasilan tahun lalu) / penghasilan tahun lalu} x laju inflasi

Contoh perhitungannya, misalnya, pendapatan tahun ini Rp 100 juta, sedangkan pendapatan tahun lalu Rp 98 juta, dengan lanju inflasi saat ini 7%, maka tingkat pertumbuhan sesungguhnya={(100 juta-98 juta)/98 juta} x 7% =0,0014.

Jadi pertumbuhan penghasilan dalam waktu satu tahun adalah 0,14% diatas laju inflasi. Semakin besar nilainya, maka semakin tinggi pula pertumbuhan penghasilan anda.

Jika tingkat pertumbuhan nilainya di bawah nol, maka sesungguhnya terjadi penurunan penghasilan walaupun dalam angka nominal meningkat, tetapi pertumbuhannya kurang dari laju inflasi.

2. Pengeluaran

Sebuah keluarga sebaiknya berusaha agar tidak menghabiskan seluruh penghasilannya, maksimal sebesar 90% saja yang digunakan untuk pengeluaran. Pengeluaran yang dimaksud disini sudah termasuk cicilan utang, premi asuransi, dan belanja keperluan sehari-hari. Sehingga masih ada sisa 10% yang bisa disisihkan untuk tabungan dan investasi.

Tingkat pengeluaran yang wajar dapat dihitung dengan rumusan :
(jumlah pengeluaran periode tertentu) / (jumlah penghasilan periode tertentu)

Contoh perhitungan, misalkan jumlah pengeluaran tahun ini Rp 37 juta, kemudian jumlah penghasilan tahun ini 36 juta, maka perhitungan tingkat pengeluarannya sebagai berikut : (37.000.000/36.000.000)=1,028

Jika hasilnya di atas batasan tingkat pengeluaran sebuah keluarga maksimal 90% dari penghasilannya, maka nilainya sebesar 102,8%. Artinya keluarga tersebut memiliki pengeluaran tahun ini lebih besar daripada penghasilan. Akibatnya sudah pasti terjadi deficit, mungkin kekurangannya diambilkan dengan mencairkan tabungan atau harta tunai lainnya.

3. Likuiditas

Secara umum semua keluarga akan memerlukan tingkat likuiditas tertentu untuk menjaga kemampuan membayar pengeluaran rutin mereka. Pemeriksaan tingkat likuiditas keuangan dapat dilakukan menggunakan rasio likuiditas, yang dapat dihitung dengan membandingkan antara asset likuid yang berupa uang tunai, tabungan, dan deposito dengan kebutuhan rata-rata satu bulan.

Sebagai contoh, misalkan jumlah uang tunai, tabungan, dan deposito adalah Rp 5.000.000 dan jumlah pengeluaran bulanan Rp 3.000.000. Dari data ini, rasio likuiditas = 5.000.000:3.0000.000=1,67. Rasio ini menunjukan kemampuan asset likuid untuk menutup kebutuhan bulanan selama 1,67 bulan atau 1 bulan 20 hari.

Secara umum, angka rasio yang disarankan antara 3 s/d 6 bulan (dana darurat). Rasio yang terlalu kecil bisa menyulitkan pemenuhan kebutuhan sehari-hari, apalagi bila terjadi resiko yang dampaknya jangka pendek, seperti rumah rusak perlu perbaikan dan lain-lain.

Sebaliknya, rasio likuiditas yang terlalu besar, melebihi kebutuhan, menyebabkan tidak efisien dalam mengelola asset dan akan menutup kemungkinan untuk memperoleh keuntungan investasi dari asset yang dimiliki. Dengan demikian, kita harus selalu berusaha menjaga likuiditas pada tingkat tertentu sesuai dengan keadaan keuangan dan pola kehidupan kita.

4. Utang

Dalam bahasa keuangan, masalah utang ini dikenal dengan istilah solvabilitas, yaitu kemampuan untuk membayar cicilan utang pada saat jatuh tempo. Bagaimana cara mengukurnya? Cara mengukurnya adalah dengan menghitung rasio pembayaran utang terhadap pendapatan.

Cara menghitungnya adalah dengan membandingkan total cicilan utang yang harus dibayar dalam periode waktu tertentu dengan total penghasilan dalam periode waktu yang sama. Contoh, bila total kewajiban cicilan utang yang harus dibayar dalam waktu satu tahun adalah Rp 18.500.000 sedangkan total pemasukan satu tahun adalah Rp 73.000.000, sehingga rasio=18.500.00/73.000.000=0,25.

Ini berarti, 25% penghasilan anda telah termakan untuk membayar utang, atau dengan kata lain anda masih memiliki 75% penghasilan untuk dikelola secara bebas. Rasio maksimum yang dianjurkan adalah sekitar 30%, lebih dari itu akan sangat mengganggu pengeluaran anda. Sebaiknya, pengambilan keputusan untuk berhutang selalu didasarkan pada arus kas riil. Artinya, pemasukan hanya diperhitungkan sebagai pendapatan apabila sudah benar-benar diterima (cash basis).

5. Produktivitas asset

Pengeluaran dari penghasilan setiap orang dapat dikelompokan menjadi tiga pos utama, yaitu :
1. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,
2. Untuk membayar utang
3. Untuk menabung dan investasi

Dua pos pengeluaran pertama sudah dibahas di depan. Selanjutnya mari kita lihat mengenai pos menabung dan berinvestasi. Membayar utang berkaitan dengan keputusan keuangan masa lalu. Kebutuhan sehari-hari adalah masalah keuangan masa kini. Menabung dan berinvestasi adalah urusan untuk kepentingan masa depan.

Tanpa adanya tabungan dan investasi, sebenarnya apa yang kita kerjakan hanya akan berjalan sampai masa kini saja. Selama penghasilan masih mampu menutupi pengeluaran, dampak langsungnya belum dirasakan. Manakala terdapat gangguan terhadap penghasilan, kehidupan keuangan akan segera terganggu, yaitu mengalami deficit.

Tanpa tabungan dan investasi, deficit ini tidak akan segera dapat ditutup, bahkan kemungkinan akan membesar dan membahayakan stabilitas keuangan. Tanpa surplus penghasilan, akan sangat sulit untuk melakukan perencanaan keuangan guna menjamin kondisi keuangan yang baik di masa depan, terlebih untuk jangka panjang.

Untuk mengukur kekuatan menabung dan investasi digunakan rasio kekuatan menabung. Cara menghitungnya adalah dengan membandingkan jumlah uang yang ditabung untuk tujuan investasi dengan pendapatan.

Sebagai contoh, apabila jumlah tabungan dalam satu tahun Rp 8.000.000, sedangkan jumlah penghasilan tahunan Rp 73.000.000, maka rasio kekuatan menabung=8.000.000:73.000.000=0,11 atau 11%. Mulailah menabung secara regular minimal 10% dari penghasilan bersih bulanan.

Ada satu alat atau rasio lagi yang bisa membantu kita untuk melihat kekuatan investasi dalam menopang keuangan keluarga melalui rasio asset investasi dengan kekayaan bersih. Rasio kekuatan investasi menggambarkan tingkat ketergantungan kekayaan terhadap hasil investasi. Rasio ini dihitung dengan cara membandingkan pendapatan dari asset investasi dengan kekayaan bersih (asset-kewajiban).

Contoh, apabila total asset Rp 430.000.000 dan total utang adalah Rp 150.000.000 dan pendapat asset investasi (bisa berupa bagi hasil, deviden, sewa property, dan lain-lain) Rp 3.000.000, maka rasio kekuatan investasi =3.000.000/(430.000.000-150.000.000) =0,01. Artinya 1% kekayaan anda diperoleh melalui investasi, sehingga ketergantungan pada pendapatan di luar investasi, biasanya berupa gaji, sangat dominan. Semakin besar rasio ini semakin bagus. Bila telah mendekati angka 1 atau melampauinya, praktis anda tidak perlu bekerja lagi, karena penghasilan dari investasi telah mencukupi seluruh kebutuhan anda. Inilah tujuan masa pension yang didambakan oleh setiap orang, hidup kecukupan dari hasil investasi yang kita miliki.

Selamat melakukan general check up untuk financial anda.






0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)