Rabu, 08 Juni 2013 - 22:46:50 WIB
Politik & Bangkrut Logika
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 5943 kali

Beberapa waktu lalu, muncul fenomena yang menunjukan bahwa sebagian politisi kita telah kehilangan akal sehat. Mereka lebih merupakan politisi rabun ayam yang hanya mau melihat yang dekat-dekat saja, yang langsung menyangkut kepentingan jangka pendek mereka, adapun kondisi bangsa dan masyarakat kita yang porak poranda dan berkeping-keping tidaklah menarik minat mereka. Krisis moral, penegakan hokum yang penuh sandiwara, dan demokrasi yang kebablasan tidaklah merisaukan mereka. Politisi partisan semacam ini tidaklah mungkin naik kelas menjadi negarawan. Mereka sekedar politisi yang kehilangan substansi misi mereka sebagai penyalur hati nurani dan aspirasi masyarakat.

Itu gambaran kasar tentang perilaku sebagian politisi kita. Pada akar rumpur, ada pula fenomena sebagian anggota masyarakat kita yang gelap mata. Mereka sudah tidak mampu lagi melihat yang putih itu putih dan yang hitam itu hitam. Pokoknya, jika tokoh idola mereka dikritik, logika mereka langsung lumpuh dan bangkrut. Demi membela pemimpin yang diidolakan, mereka pun siap terjun dalam perang saudara. Begitu entengnya sebuah pertumpahan darah bagi kelompok ini. Akan tetapi, yang agak memprihatinkan adalah kemungkinan bahwa sebagian elite juga larut dalam logika yang kacau ini. Kenyataan inilah yang semakin memperparah situasi politik yang memang sudah parah. Tampaknya, sebagian kita masih hidup dalam sebuah subkultur yang sulit sekali menerima kenyataan sebagaimana adanya. Ini adalah pertanda dari ketidakdewasaan dalam berpolitik.

Suasana mental semacam ini jika tidak cepat dicerahkan, tipis harapan kita bahwa dalam tempo dekat demokrasi yang sehat yang dibangun dengan parameter rasional akan menjadi kenyataan. Sebuah system demokrasi hanyalah mungkin diciptakan jika sebagian besar rakyat dapat menggunakan akal sehatnya dalam berpolitik.

Menghadapi subkultur seperti di atas, semestinya kaum elite tidak tinggal diam. Mereka harus turun ke lapangan untuk memberi pencerahan kepada pengikutnya agar mereka mau berpikir lebih obyektif dan rasional. Atau, jika elite ternyata tidak lebih cerah dibandingkan pengikutnya, apakah tidak mungkin diantara rakyat di akar rumput mengampil over posisi elite yang rabun ayam itu?

Fenomena meleburnya massa secara emosional ke dalam diri pemimpin yang dipercayai setengah dewa adalah pertanda dari sebuah tingkat kultur yang masih feudal. Situasinya akan kurang berbahaya kalau pemimpin yang dibela itu adalah seorang visioner, cakap mengatasi krisis, punya peta masa depan, dan adil. Akan tetapi, kalau yang dibela itu tidak memiliki kualifikasi demikian, cepat atau lambat risikonya hanya satu : kebobrokan masa depan sebuah bangsa.

Pertanyaan berikutnya yang cukup relevan adalah, siapa yang bertanggung jawab terhadap berbagai jalan buntu yang kita hadapi? Elitekah? Intelektual? Ulama? Pendeta? Politisi? Pendidik? Birokrat? Atau siapa? Mungkin semuanya turut bertanggung jawab sebagai bagian dari dosa kolektif. Akan tetapi, agak fair, mereka yang memegang posisi kunci pemerintahanlah yang paling bertanggung jawab disamping mental budak yang masih diidap oleh sebagian kita. Maka arah pendidikan kita semestinya adalah membebaskan rakyat dari suasana mental budak yang mematikan itu.

Kini kita sedang berada di simpang jalan yang sangat kiritikal dan krusial dalam menentukan pilihan antara to be or not to be bagi bangsa ini, ketidakberdayaan kita dalam menentukan pilihan yang tepat sebenarnya adalah bagian belaka dari logika yang bangkrut tadi. Akankah kita terpasung terus dalam kelumpuhan nurani dan kebangkrutan logika? Semoga tidak demikian.

Sumber : Mencari Autentisitas dalam Kegalauan, Syafii Maarif, hal: 132-134






0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)