Selasa, 11 Juni 2013 - 22:46:50 WIB
Pusat Orbit Spiritual
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 9919 kali

Fisikawan Inggris, Isaac Newton yang telah menemukan sebuah ketetapan mekanik tentang gaya gravitasi, mereduksi Tuhan ke dalam system mekaniknya sendiri. Ia merasa telah mendapatkan bukti tentang eksistensi Tuhan ketika berkontemplasi tentang alam. Dalam esai awalnya, De gravitatione et aequipandio fluidorum, ia mengatakan : Gravitasi mungkin dapat menggerakan planet-planet namun tanpa sebuah kekuatan ilahiah yang Maha Dahsyat-Sang Mekanik Sejati, gravitasi tidak akan pernah mampu membuat planet-planet sirkular terhadap matahari sebagaimana adanya.

Apabila kita mengamati dan mempelajari susunan galaksi Bima Sakti, sebuah garis orbit maha luas dengan gaya gravitasi maha kuat seperti yang dituturkan oleh Newton, maka ada titik tengah yang menjangkar dan menarik seluruh benda-benda angkasa dalam jangkauan gravitasinya agar tetap pada garis edarnya.

Begitu pula pusat gravitasi jiwa manusia yang terletak pada pusat jiwa. Banyak orang menamakannya PIKIRAN BAWAH SADAR, yaitu sebuah kekuatan yang senantiasa menarik manusia kearah titik pusat tersebut. Titik pusat spiritual ini bersifat universal, artinya berlaku dan menjangkau seluruh umat manusia, siapapun mereka akan senantiasa tertarik menuju gaya tarik spiritual itu.

Di sinilah letak sebuah pusat kekuatan yang mengatur garis edar manusia. Apabila ada yang mencoba keluar dari garis orbit itu (off line), niscaya terjadi reaksi jiwa atau reaksi social yang sangat hebat. Umumnya cepat atau lambat manusia akan kembali pada garis orbitnya, tunduk pada kehendak nilai-nilai spiritual Tuhan tersebut. Apabila ada yang mencoba keluar orbit, maka akan lahir energy gravitasi, energy elektromagnetik dan energy atomic yang sangat besar yang menghancurkan atau melontarkannya, serta mengembalikannya pada garis orbit kembali. Inilah yang disebut hokum alam atau sunnatullah (spiritual based organization) yang sesungguhnya adalah Rububiyah Allah.

Masuk dan mengikuti garis orbit (in line) berarti hidup dalam keteraturan. Keluar dari garis orbit, artinya hidup dalam kondisi yang tidak seimbang dan berujung pada kehancuran. Apabila tepat meletakkan posisi kita di sana, maka sungguh ini adalah langkah yang penuh kekuatan dan seimbang. Langkah ini dinamakan langkah IHSAN, yaitu keputusan untuk mengikuti dan memanfaatkan energy spiritual pada manzilah atau garis orbit.

Misalnya ada pertanyaan mengapa anda dulu sekolah/kuliah? Karena rasa keingintahuankah, atau karena sebuah dorongan untuk kebahagiaan batin, atau mungkin keinginan yang kuat untuk mencapai sukses? Ketiga jenis keinginan itu seperti ingin tahu atau ingin belajar, ingin bahagia, atau ingin sukses adalah termasuk drive yang menarik anda untuk berputar pada garis orbit pusat. Ketika kita memulai aktivitas berusaha, ia sebenarnya sudah mulai masuk ke dalam drive garis orbit. Artinya, ada kekuatan gravitasi spiritual yang menarik dirinya.

Sekarang, cobalah anda bayangkan, orang yang setelah bertahun-tahun berjuang menimba ilmu, akhirnya kini memiliki pengetahuan yang amat diinginkannya. Kemudian bayangkan pada orang yang dengan usahanya yang kuat, akhirnya memperoleh kebahagiaan yang telah lama diidam-idamkannya itu. Kedua orang tersebut masuk ke dalam spiritual comfort zone atau zona nyaman garis orbit spiritual. Namun sebaliknya, orang yang belum atau tidak menemukannya (tujuan ideal hidupnya), ia akan dilanda kegelisahan, dan akan terus-menerus berusaha untuk memperolehnya.

Spiritual artinya spirit atau murni. Contoh, Good Corporate Governance, sebenarnya adalah sebuah upaya perusahaan untuk mendekati garis orbit menuju pusat spiritual, seperti transparency, atau keterbukaan, responsibilities atau bertanggung jawab, accountabilities atau kepercayaan, fairness atau keadilan dan social awareness atau kepedulian social. Sikap kejujuran, bertanggung jawab, bisa dipercaya dan diandalkan serta kepekaan terhadap lingkungan social, itulah yang menjadi tujuan dari good corporate governance. Mari bandingkan dengan sikap Nabi Muhammad 15 abad yang lalu, seperti honest atau siddiq, accountable atau amanah, cooperative atau tabliq, smart atau fathonah, atau dengan kata lain : jujur dan benar, bisa dipercaya, bertanggung jawab, memiliki kecerdasan serta peduli terhadap lingkungan social. Bayangkan good corporate governance telah ada dan telah diajarkan hampir 15 abad yang lalu.

Perbedaannya terletak pada sejauh mana tingkat ketulusan sikap good corporate governance tadi, apabila dibandingkan pada zaman Nabi Muhammad. Perbedaan signifikan, terletak hanya pada jenis drive atau motivasinya. Motivasi demi kepemilikan materi dan pemuas ambisi seringkali menjadi dua motif utama seseorang menerapkan good corporate governance. Hasil yang akan diraih apabila good corporate governance bermotif hanya untuk pemuasan materi, akan berujung pada berbagai skandal, seperti Enron gate, WorldCom gate dan Arthur Andersen gate dll. Dan pada akhirnya, skandal tersebut berakhir dan bermuara pada kehancuran. Lihatlah pemberitaan pers setelah terbukanya aib tersebut, semakin memperjelas kehancuran dari apa yang disebut sebagai mengambil garis orbit yang salah (off line) .

Begitulah, pusat orbit yang salah pada akhirnya berbuntut pada kehancuran. Garis edar mereka dilandasi oleh pemuasan materi berupa ekspektasi laba yang besar serta ketamakan untuk memperoleh keuntungan. Dan kehancuran tersebut menyeret ribuan orang tak berdosa. Bandingkan dengan Rasulullah dalam ber-amar makruf nahi munkar. Ia adalah contoh teladan umat yang merelakan dirinya dipekerjakan oleh Allah. Mengerjakan seluruh amanat Sang Maha Pencipta dengan kerelaan dan kesadaran tinggi. Ia selalu siap untuk mencari keridhaan Allah. Inilah yang disebut sebagai motif spiritual murni, bukan uang atau harta.

Ini adalah suatu bukti bahwa untuk mendekati pusat orbit dan beredar pada garis orbit serta memiliki nilai-nilai spiritual secara optimal, seseorang haruslah memiliki motivasi yang kuat dan tulus. Hasilnya akan juah lebih memuaskan, baik dari sisi material maupun spiritual.

Sumber : Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ Power, hal: 47-53






0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)