Selasa, 18 Juni 2013 - 22:46:50 WIB
Stop Racun Neoliberalisme?
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 4681 kali

Hubungan antara globalisasi dengan neoliberalisme dapat diibaratkan seperti dua sisi dari sekeping mata uang yang sama. Sebagaimana dikemukakan Lafontaine, berbicara mengenai globalisasi sama artinya dengan berbicara mengenai penyebaran neoliberalisme. Sebaliknya, berbicara mengenai neoliberalisme sama artinya dengan berbicara mengenai ekspansi kepentingan para pemodal Negara-negara kaya.

Para pemodal Negara-negara kaya inilah terutama yang menjadi sponsor globalisasi. Sebab itu, mudah dimengerti bila penyebarluasan globalisasi hamper selalu berjalan beriringan dengan penyebarluasan neoliberalisme. Globalisasi sesungguhnya hanyak kedok. Di balik kedok globalisasi bersembunyi agenda-agenda ekonomi neoliberal yang dimotori oleh para pemodal Negara-negara kaya.

Dengan memahami globalisasi sebagai pelaksanaan agenda-agenda ekonomi neoliberal seperti itu, bahaya globalisasi bagi Negara-negara miskin menjadi mudah dipetakan.

Secara umum, globalisasi adalah proses sistematis untuk merombak struktur perekonomian Negara-negara miskin, terutama berupa pengerdilan peran Negara dan peningkatan peranan pasar, sehingga memudahkan pengintegrasian perekonomian Negara-negara miskin itu ke dalam genggaman para pemodal Negara-negara kaya.

Dari pengertian umum tersebut, dapat disaksikan bahwa bahaya globalisasi bagi Negara-negara miskin pada dasarnya terletak pada melemahnya kemampuan sebuah pemerintahan dalam melindungi kepentingan Negara dan rakyatnya, dan meningkatnya ketergantungan perekonomian Negara-negara miskin terhadap uluran tangan para pemodal internasional yang berasal dari Negara-negara kaya.

Dengan meningkatnya ketergantungan perekonomian Negara-negara miskin terhadap uluran tangan para pemodal internasional yang berasal dari Negara-negara kaya, fungsi pemerintah dalam perekonomian Negara-negara miskin cenderung berubah. Dari melayani dan melindungi kepentingan rakyat, pemerintah Negara-negara miskin berubah fungsi menjadi pelayan dan pelindung kepentingan para pemodal Negara-negara kaya.

Pada tingkat yang ekstrim, globalisasi bermuara pada terjadinya pelebaran kesenjangan social dan ekonomi, dan meningkatnya dominasi pada pemodal Negara-negara kaya terhadap kepemilikan factor-faktor produksi di setiap Negara miskin. Dengan demikian, bila secara internasional globalisasi menyebabkan semakin meningkatnya ketergantungan Negara-negara miskin, secara domestic ia menjadi pemicu porako-porandanya fondasi integrasi social yang terdapat dalam masyarakat.

Dengan bahaya seperti itu, mudah dimengerti bila Petra dan Veltmeyer lebih suka menyebut globalisasi sebagai imperialism. Sebagaimana mereka tegaskan, di balik penyebarluasan globalisasi sesungguhnya bersemayam sebuah kepentingan kelas atas tertentu, yaitu kelas kapitalis internasional baru yang sedang berusaha melebarkan pengaruh dan dominasi ekonomi mereka ke seluruh penjuru dunia.

Pertanyaan,”Tindakan apakah yang harus dilakukan untuk mencegah berlanjutnya bahaya globalisasi?” bila dicermati wacana mengenai bahaya globalisasi dalam beberapa waktu belakangan ini, perlawanan terhadap globalisasi dalam garis besarnya dapat dikelompokan ke dalam tiga aliran berikut.

Pertama, perlawanan terhadap pelaksanaan agenda-agenda globalisasi. Kedua, perlawanan terhadap agenda-agenda globalisasi. Ketiga, perlawanan terhadap neoliberalisme atau ideology yang menjadi ruh globalisasi. Dalam bentuk perlawanan yang ketiga ini, globalisasi langsung ditolak pada tingkat prinsipnya. Sedangkan ungkapan globalisasi diusulkan untuk diganti dengan internasionalisasi.

Penulis sendiri lebih condong pada aliran ketiga. Prinsip yang dipakai sebagai titik tolak untuk menolak globalisasi adalah sebuah prinsip yang dikenal sebagai prinsip demokrasi ekonomi (Dal, 1992; Smith, 2003). Dalam hal ini bangsa Indonesia sesungguhnya sangat beruntung. Sebab, sejak proklamasi kemerdekaan, prinsip demokrasi ekonomi ini sudah tercantum dalam UUD 1945.

Sebagaimana dikemukakan oleh bagian penjelasan Pasal 33 UUD 1945,”Dalam Pasal 33 tercantum dasar demokrasi ekonomi, produksi dikerjakan oleh semua, untuk semua, dibawah pimpinan atau penilikan anggota-anggota masyarakat yang diutamakan, bukan kemakmuran orang seorang. Sebab itu perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan. Bangun perusahaan yang sesuai dengan itu ialah koperasi.”.

Dari kutipan tersebut, dapat diketahui bahwa demokrasi ekonomi berbeda secara diametral dari neoliberalisme. Neoliberalisme mengagungkan persaingan dan kebebasan individu. Sedangkan demokrasi ekonomi lebih mementingkan kerjasama dan persaudaraan social.

Sebagaimana dikemukakan Forum Globalisasi Internasional, beberapa agenda yang mendesak untuk dilakukan dalam rangka internasionalisasi adalah sebagai berikut.

Pertama, pembentukan lembaga-lembaga internasional baru : 1) mencegah penularan penyakit, konflik dan perusakan lingkungan internasional; dan 2) menetapkan norma internasional mengenai hak-hak dan standar-standar yang sebagian besar akan diterapkan pada tingkat nasional.

Kedua, penataan ulang (reformasi) tata keuangan internasional. Ketiga, penataan ulang tata kelembagaan bank dunia dan bank-bank regional seperti bank pembangunan asia, yang memiliki fungsi sejenis. Dan keempat, penataan ulang organisasi perdagangan dunia.

Untuk melaksanakan agenda-agenda tersebut, para pemimpin Negara-negara miskin tentu perlu membekali diri mereka dengan kemauan politik yang kuat. Bersamaan dengan itu, mereka juga dituntut untuk terus merapatkan barisan dan mempererat hubungan antarsesama Negara miskin sedunia.

Hanya bekal seperti itulah yang dapat meningkatkan posisi tawar Negara-negara miskin dihadapan oligarki Negara-negara kaya. Dan hanya bekal seperti itu pula yang dapat mencegah para pemimpin Negara-negara kaya untuk terus melaju dengan agenda-agenda ekonomi neoliberal mereka. Globalisasi atau imperialism neoliberal Negara-negara kaya memang harus secepatnya dihentikan. Semakin cepat semakin baik.

Sumber : Mafia Berkeley, Revrisond Baswir, hal: 82-87






0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)