Rabu, 19 Juni 2013 - 22:46:50 WIB
Social Change Strategies
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 10661 kali

Dalam sebuah pemeo dikatakan bahwa hidup dan kehidupan itu adalah problem. Dengan kata lain, mustahil dikatakan hidup jika tak memiliki problem sama sekali. Tapi apakah sebenarnya problem itu?

Para sosiolog mendefinisikan problem sebagai terjadinya kesenjangan antara das sollen (apa yang seharusnya, yang kita inginkan, atau cita-cita) dan das sein (apa yang nyata, yang terjadi, atau fakta). Kesenjangan antara yang ideal (cita-cita) dan yang riil (fakta) inilah yang lantas memunculkan problem. Berkenaan dengan manusia sebagai makhluk social, para ilmuwan membagi problem ke dalam dua kategori : problem (berskala) social dan problem personal.

Para ilmuwan social membedakan problem personal dan problem social melalui dua cara : pertama, melihat pada sebab-musabab, dan kedua, melihat pada dampak-dampak. Yang pertama menggambarkan cara berpikir deduktif yang berangkat dari akar-akar persoalan, sementara yang kedua menggambarkan cara berpikir induktif yang berangkat dari berbagai kasus dan fenomena khusus yang telah atau sedang terjadi.

Contoh problem social berskala luas yang pernah dialami bangsa Indonesia adalah krisis multidimensional beberapa tahun lalu. Sebab langsung dari krisis ini sendiri adalah gonjang-ganjing ekonomi yang berkepanjangan dan berlarut. Namun pelacakan lebih mendalam menunjukkan adanya sebab yang lebih radikal dan fundamental terhadap semua ini : kerancuan konsep plus pelaksanaan kebijakan yang acak-acakan. Jadi, ada dua tingkat kelemahan : teoritis dan praktis. Dan tiap-tiap tingkat kelemahan ini membentuk jalinan mata rantai krisis yang terus membulat hingga membentuk lingkaran yang penuh. Akibatnya, begitu sulit bagi negeri ini untuk menemukan ujung pangkal krisis ini, apalagi untuk lepas dari kepungannya.

Sebagaimana diketahui bahwa betapa lemahnya teori indeks ala Walter Rostow yang melambari konsep pembangunan Indonesia sejak awal tahun 70an. Sudah banyak kita mendengar kritik ekonom atas asumsi-asumsi Rostow. Inti kritik mereka adalah bahwa teori indeks ini cenderung mereduksi perkembangan masyarakat yang sangat dinamis menjadi obyek-obyek yang statis dan angka-angka yang pasti.

Masyarakat, menurut teori ini, adalah entitas yang stabil, statis, dan tidak berubah. Kalaupun ada perubahan, maka itu tak lain sebagai sebuah penyimpangan (deviation) dari yang stabil. Inilah yang dalam ilmu social disebut dengan mitos deviant. Mitos ini berakar pada teori structural functionalism yang dicetuskan sosiolog Tallcot Parson, yaitu bahwa fungsi-fungsi social tidak pernah berubah. Alih-alih meyakini adanya dinamika social, para penggagas teori ini meyakini adanya statika social. Masyarakat tak ubahnya kumpulan angka-angka yang mati. Dalam konteks Indonesia, kelemahan teoritis ini diperparah oleh metode pelaksanaan yang mengabaikan perspektif local dan global.

Kelemahan teoritis plus konsep pelaksanaan yang semrawut itu mempercepat proses krisis moneter menjadi krisis kepercayaan politis dan berujung pada kekacauan social yang tak terkendali. Trust (ikatan kepercayaan) yang menjadi landasan kehidupan social mendadak luruh. Sebaliknya, bola-salju segregasi social secara cepat bergulir menabrak semua norma yang ada. Kekerasan dan kebrutalan menjadi satu-satunya medium public untuk mengekspresikan perasaan dan pandangan.

Keadaan social yang demikian hectic ini memerlukan upaya dan tindakan bersama. Pertama dan terutama kita perlu memikirkan kembali cara-cara yang bisa memulihkan seluruh keadaan yang ada. Merenovasi (atau bahkan mencampakan sama sekali) paradigma lama dan mengkonstruksi landasan konseptual yang benar-benar baru. Dalam rangka menata kembali masyarakat, kita mesti menghilangkan bermacam prasangka dan perasaan sakti hati di masa silam. Kita perlu cara-cara baru untuk berinteraksi, perspektif yang baru dalam relasi-relasi social dan politik. Dan semua inilah yang dalam ilmu sosiologi dinamai dengan perubahan social (social change).

Ada banyak strategi yang bisa dipakai untuk melakukan suatu perubahan social. Pertama, revolusi atau gerakan rakyat yang merupakan bagian dari strategi perubahan social yang mengandalkan kekuasaan atau kekuatan. Dan revolusi merupakan puncak dari semua bentuk perubahan social, lantaran ia menyentuh segenap dimensi social secara radikal, massal, cepat, mencolok, dan mengundang gejolak intelektual dan emosional dari seluruh anggota masyarakat yang terlibat di dalamnya. Oleh sebab itu, revolusi adalah strategi perubahan yang mengandung biaya social paling tinggi dan karenanya teramat jarang terjadi.

Kedua, strategi reedukatif-normatif. Normative adalah kata sifat dari norma yang berarti aturan yang berlaku di masyarakat. Posisi kunci norma-norma social dalam kehidupan bermasyarakat telah diakui secara luas oleh hampir semua ilmuwan social. Dan norma social termasyarakatkan melalui pendidikan. Oleh sebab itu, strategi normative ini umumnya digandengkan dengan upaya pendidikan ulang untuk menanamkan paradigma baru dengan menggantikan paradigm berpikir masyarakat yang lama.

Seperti dapat kita lihat, strategi normative ini merupakan strategi jangka panjang yang sepenuhnya bergantung pada strategi perubahan yang ketiga. Strategi perubahan yang ketiga adalah strategi persuasive. Strategi persuasive adalah ujung tombak dari semua strategi perubahan social. Dalam menerapkan strategi ini, media massa (buku, Koran, radio, televise, dll.) bisa sangat berperan. Karena, pada galibnya, strategi persuasive dijalankan lewat pembentukan opini dan pandangan masyarakat yang tak lain melalui media masa.

Inti dari strategi persuasive yang sekaligus merupakan elan vital dari semua strategi perubahan ini tak lain adalah komunikasi. Terutama komunikasi social. Dan komunikasi social tidak sekadar berbagi informasi, namun yang lebih penting adalah berbagi cita-cita dan perasaan. Melalui suatu komunikasi social yang efektif, masing-masing individu akan terpaut satu sama lain dalam simpul kemasyarakatan yang alamiah dan manusiawi. Komunikasi social memainkan peran yang lebih besar ketimbang sekadar sosialisasi, karena komunikasi social juga efektif dalam menyegarkan dan merevitalisasi jiwa masyarakat yang sedang galau.

Sumber : Menyibak Masa Lalu, Meniti Hari Baru; PJKS, Zulvan Lindan; Hal: 5-11.






0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)