Rabu, 10 April 2010 - 22:46:50 WIB
Crowd Lobbying
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 8904 kali

Istilah crowd lobbying menunjukan teknik lobi yang digunakan oleh organisasi dalam mengumpulkan anggota akar rumputnya secara besar-besaran di pusat-pusat pemerintahan. Biasanya untuk menunjukkan preferensi kebijakan yang diinginkan saat berhubungan langsung dengan pejabat. Alat ini merupakan taktik kreatif aksi kelompok kepentingan yang merupakan bagian kedua dari tiga aliran dasar perjuangan; perjuangan diplomatis dan protes.

Secara teknis, crowd lobbying merupakan bagian dari lobi. Secara khusus oleh Robert Salisbury disebut sebagai bentuk mobilisasi anggota, dengan melibatkan usaha-usaha lobi yang dilakukan pimpinan lobi untuk mendorong anggotanya agar mengenakan sanksi potensial terhadap pejabat pemerintah, biasanya berupa sanksi electoral. Usaha semacam itu biasanya bersifat tidak langsung dan luas, misalnya tuntutan melalui media massa atau lewat jejaring sosial. Atau dengan cara yang lebih sempit melalui kampanye lewat telegram dan penggunaan bus tripping untuk mengangkut ribuan anggota yang sudah terprovokasi untuk menemui dewan perwakilan.

Salisbury menganggap semua jenis mobilisasi beresiko, karena kegagalan untuk mencapai sanksi electoral dapat benar-benar mendiskreditkan organisasi; keberhasilan mobilisasi sangat tergantung pendekatan oleh sebagian besar lembaga. Keunggulan pola crowd lobbying terletak pada fakta bahwa organisasi yang melakukan lobi dapat sekaligus melakukan aksi protes dan aksi diplomatic.

Pertama, crowd lobbying hampir tidak banyak menyinggung masalah hukuman electoral. Konsep itu lebih menekankan kepada preferensi kebijakan khusus dan pemikiran rasionalnya. Singkatnya, konsekuensi electoral yang muncul akibat preferensi tersebut nampak jelas. Karena sejauh ini masalah hukuman tidak disinggung maka crowd lobbying tidak terancam pendiskreditan akibat kegagalan dalam memberikan hukuman.

Kedua, aspek kerumunan (crowd) merupakan poin kunci yang membedakan bentuk lobi dengan bentuk-bentuk lain perjuangan kelompok kepentingan diplomatic. Tak satu pun jenis perjuangan diplomatic yang menggunakan kerumunan secara rutin, setidaknya dalam bentuk pengumpulan massa di pusat-pusat pemerintahan untuk mempengaruhi proses pembuatan kebijakan.

Secara terpisah, crowd lobbying menunjukan ciri-ciri menonjol dari perjuangan protes, yaitu kerumunan (crowd) . Dalam aksi itu orang dalam jumlah besar berkumpul dan bertatap muka dengan focus pada satu obyek perhatian tertentu. Sebaliknya, trend utama perjuangan diplomatic organisasi social adalah pertemuan dua orang atau kelompok kecil yang diciptakan oleh oknum-oknum organisasi formal.

Inovasi kreatif dari crowd lobbying adalah ketangguhan dan kestabilan unit social yang terlibat dalam aksi protes. Dengan cara yang jeli, crowd lobbying dijauhkan dari makna protes dan disamarkan ke dalam repertoire perjuangan diplomatic. Dengan kata lain, crowd lobbying adalah protes kamuflase, yang merupakan bagian terendah dan tingkat simbolik terkontrol serta terbatas dari aksi protes. Crowd lobbying terutama dalam bentuk rapat umum (rally) dan aksi jalan kaki (march). Melalui media-media aksi santun seperti mimbar bebas dalam ruang tertutup, aksi dengan cara yang terhormat, dan ekspresi kerumunan terkendali, para anggota kelompok kepentingan tersalurkan aspirasinya untuk melakukan kegiatan yang fungsinya sama dengan protes. Kelompok kepentingan ini merasakan kegelisahan namun enggan untuk terlibat dalam aksi yang setingkat dengan protes.

Crowd lobbying memungkinkan seseorang memperoleh dua hal berbeda. Aksinya memang santun akan tetapi kerumunannya berbentuk aksi protes. Dengan cara ini, aksi protes diselundupkan atau disamarkan kedalam aksi santun.

Sumber : Protes, John Lofland, hal: 318-320






0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)