Jumat, 21 Juni 2013 - 13:46:50 WIB
Kebudayaan Vs Self-Destruction
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 3754 kali

Krisis budaya menghantui bangsa kita : kesenjangan antara kesadaran dan perilaku. Akhir-akhir ini, kita melihat bahwa kesadaraan kemanusiaan mengalami penurunan. Konformisme pada perilaku kolektif mendominasi kehidupan sehari-hari. Kekasaran, kekerasan, kebrutalan, dan sadism terus terjadi. Seolah-olah bangsa ini sedang melakukan orgi dengan agresifitas sebagai bahan baku. kita sedang sibuk melukai diri sendiri, upacara menuju penghancuran kemanusiaan. Kita percaya bahwa waktu akan menyembuhkan luka-luka. Akan tetapi, kita pun harus berbuat sesuatu agar penyembuhan itu benar-benar terjadi, tidak malah menjadi lebih parah. Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane.

Perilaku kolektif selalu bersifat social. Jadi, memang menafikan semua hal yang bersifat individual, seperti kesadaran dan kejiwaan. Sejarah kita adalah mimpi di mana batas antara realitas dan mitos mengabur. Kita baru tersadar ketika realitas dan mitos itu runtuh. Agresivitas meruntuhkan baik realitas maupun mitos. Sejarah menjadi terang benderang??? Ternyata tidak. Sesudah itu, rupanya, orang terbiasa mendengar, melihat dan melakukan agresifitas tanpa disadari.

Pasti ada yang salah dalam kebudayaan kita. Kesenjangan antara kesadaran dan perilaku sebenarnya sudah berlangsung lama. Karena itu, tidak mengherankan kalau agresifitas menjadi pemandangan sehari-hari. Pawai-pawai, kampanye, dan rapat akbar menjelang pemilu atau pilkada yang lalu telah melahirkan agresifitas. Agresifitas juga dapat dilakukan oleh fans music ataupun supporter sepakbola.

Untuk dapat memahami gejala-gejala yang tersebar itu, kita akan mengangkatnya ke peringkat teoritis. Kata theory diantaranya diartikan sekadar sebagai kontemplasi. Karenanya tulisan ini akan menghubungkan gejala-gejala itu dengan filsafat, psikologi, dan sosiologi. Diharapkan bahwa dengan cara ini, penjelasan dan pemecahan masalah akan ditemukan. Selanjutnya, langkah-langkah kongkret untuk masyarakat pada umumnya dapat dirumuskan.

Manusia mesin

Akar dari agresifitas itu bermacam-macam, tetapi selalu dapat dikembalikan pada system pengetahuan yang dimiliki. Seorang sosiolog Perancis, Jacques Ellul, menulis dalam bukunya, The Technological Society (1964) bahwa dalam masyarakat teknologis, penggunaan teknik meluas. Technique ialah totalitas dari metode yang secara rasional mencapai dan mempunyai efisiensi yang mutlak dalam setiap bidang aktivitas manusia. Jadi, memang teknologi mulai dengan mesin-mesin industry. Akan tetapi, kemudian teknik pun dipakai di luar industry, berdiri sendiri secara bebas. Selain industry, ada teknik ekonomi, ada teknik politik, ada teknik manusia.

Kekhawatiran kalau-kalau penggunaan teknik akan mengubah seluruh peradaban manusia terjadi di Indonesia sangat beralasan. Sekarang ini, di Indonesia, banyak manusia merasa dirinya hanya sebagai mesin. Mesin politik, mesin peserta kampanye, mesin survival perusahaan, mesin pendemo, mesin pemuja penyanyi, mesin supporter sepakbola, mesin pembunuh (dan pembunuh para pembunuh). Dehumanisasi itu mula-mula terjadi pada system pengetahuan kemudian pada perilaku.

Selama tiga dasawarsa yang lalu, kiranya Indonesia telah menerapkan teknik ekonomi, teknik politik, dan teknik manusia. Namun teknik ekonomi telah disalahgunakan untuk kepentingan elit politik, militer dan praktisi ekonomi yang sangat sedikit jumlahnya. Akibatnya, setelah reformasi, banyak orang kemudian menjadi mesin perusak fasilitas-fasilitas ekonomi, mesin penjarah, dan mesin pencuri. Sebagaimana layaknya sebuah mesin, semuanya bertindak tanpa rasa bersalah.

Dalam politik, ada rekaya Negara atas masyarakat, baik secara makro maupun mikro. Ideology nasional hanya mengenal asal tunggal Pancasila dan menafikan golongan-golongan dalam masyarakat. Nasionalisme horizontal diukur dengan kesetiaan vertical pada pemerintah. Dalam masyarakat, teknik politik kita adalah mayoritas tunggal, ritual politik, monoloyalitas, manipulasi sejarah, macam-macam izin, fasilitas, jabatan pada pemerintah dan berbagai preferensi (bisnis, politik).

Kita juga menerapkan teknik manusia. Teknik manusia yang berupa pendidikan yang bertujuan untuk adaptasi lingkungan telah disalahgunakan untuk eksploitasi manusia. Tidak heran kalau dari berbagai teknik itu muncul manusia mesin, manusia yang lebih banyak dikuasai oleh kekuatan bawah sadar (ketidaksadaran) daripada oleh kesadaran.

anomi

bahwa manusia itu mesin, juga dilihat oleh aliran behaviorisme dalam psikologi. Aliran ini hanya mengakui behavior (perilaku), bukan kesadaran atau kejiwaannya, yang membentuk suatu kepribadian. Untuk itu, behaviorisme menggunakan formula stimulus-response. Supaya memperoleh respon sesuai dengan yang dikehendaki, perlu ada reinforcement (penguatan). Dengan demikian, perilaku manusia sepenuhnya ilmiah, dapat diduga sebelumnya.

akan tetapi, reinforcement itu rupanya telah menghilang dari masyarakat kota. Banyak respon negative yang tidak diikuti oleh pemberian reinforcement yang sesuai dengan harapan pelaku. Akibat dari inkonsistensi itu ialah terjadi anomie, yaitu keadaan dimana ada disorganisasi nilai-nilai social dan personal (Chaplin, 1975). Masyarakat menjadi abnormal. Tidak adanya kecocokan itu, dapat dilihat dan ditunjukkan dalam bidang-bidang ekonomi sampai bidang hokum yang mengakibatkan ketidakpercayaan pada hokum itu sendiri.

Manusia dan masyarakat massa

Terbentuknya manusia massa dan masyarakat massa sebenarnya terjadi melalui proses yang panjang, tidak hanya akhir-akhir ini. Pribadi yang utuh, bebas dan rasional tenggelam dalam satuan yang disebut masyarakat massa. Massa menjadi satu-satunya entitas yang harus diperhitungkan. Kekuatan yang membentuk manusia dan masyarakat massa ialah teknologi (mekanisasi, industrialisasi), organisasi ekonomi (pabrik, pasar, advertensi), diferensiasi social (kelas, suku, agama), mobilisasi politik (Negara, partai), dan budaya (olahraga, music, pendidikan, media massa).

Istilah manusia massa berasal dari sebutan I’hommemass dari Gabriel Marcel, salah seorang filsuf eksistensialis (Tiryakia, 1962). Menurutnya, dalam masyarakat teknologis, manusia tidak lagi memahami diri sendiri berdasarkan gambaran tentang Tuhan (the Image of God), tapi gambaran tentang mesin (the Image of Machine). Semangat manusia massa menurut Marcel ialah kebiasaannya melakuka abstraksi, memandang realita sebagai satuan abstrak, tidak sebagai realitas yang utuh, dengan lebih menekankan aspek emosional daripada intelektual.

Selanjutnya, Marcel menyebut juga cirri lain, yaitu kecenderungan manusia massa untuk serba sama dengan orang lain (equality) : siapa yang tidak sama seperti semua orang lain, beresiko ditiadakan, tidak diperhitungkan. Semua orang itu tidak lain ialah massa. Tidak ada lagi ruang untuk menjadi diri sendiri. Hidup tidak lagi otentik.

Budaya massa

Budaya massa sedang mengancam kebudayaan kita. Budaya massa merujuk pada produk-produk simbolis dari mayoritas yang tidak berbudaya, berbeda dengan budaya adiluhung yang dihasilkan dari kalangan elit. Perubahan masyarakat dan kebudayaan Indonesia telah menyebabkan tercampurnya budaya massa dengan budaya adiluhung. Di Indonesia, kemudian muncul istilah-istilah yang nonkelas, seperti budaya tradisional, budaya modern, budaya daerah, dan budaya nasional. Dalam literature berbahasa Inggris, dipakai istilah yang juga nonkelas, yaitu popular culture dan taste culture, untuk menggantikan mass culture (Gans, 1975) .

Istilah budaya massa yang terkesan meremehkan itu disini dipakai untuk merujuk pada produk-produk simbolis manusia massa dan masyarakat massa, yaitu nilai-nilainya sebagaimana diekspresikan dalam bentuk kesenian, media, barang konsumsi, dan popular wisdom.

Jelas ada degradasi budaya dalalm budaya massa. Budaya massa ditentukan oleh konsumen, tidak oleh produsen. Karena itu, budaya massa yang lebih menekankan konsumsi budaya patut dilihat secara kritis. Dari segi konsumsinya, budaya massa sudah menjadi komoditas, budaya bukan lagi janji kebajikan/adiluhung, berupa keinginan tentang realitas lain yang menembus realitas kekinian. Budaya jatuh dari penghargaan use value kepada penghargaan yang semata-mata berdasarkan exchange value-nya. Ada erosi nilai dalam budaya massa.

Pertanyaan yang sah ialah apakah budaya massa kita adalah sebuah culture of narcissism? Kalau memang begitu, demonstrasi-demonstrasi adalah bentuk self-gratification, pemuasan diri. Pemuda-pemuda kelas menengah kota sedang jatuh cinta dengan dirinya sendiri.

Kemajuan dan kekecewaan

Raymond Aron (1968) berbicara tentang the essential imperfection dari masyarakat. Sia-sia saja kita mencari kesempurnaan masyarakat, kemajuan selalu menimbulkan kekecewaan. Masyarakat modern tidak saja dikuasi oleh Negara tetapi oleh banyak pusat kekuasaan. Disamping Negara, ada teknologi, pasar, media massa, ilmu pengetahuan, dan massa. Kalau hari-hari ini kita menyaksikan kehebatan ulah massa (sehingga massa menjadi tolok ukur kebenaran menggantikan Negara), pasti berbeda waktu kita akan menyaksikan kebolehan kekuatan lain. Kekecewaan itu adalah kekecewaan eksistensial. Kalau setiap kekecewaan harus dimanifestasikan dalam agresifitas, agresifitas akan ada dalam sepanjang sejarah. Agresifitas hendaknya dipandang sebagai inisiasi menuju masyarakat yang lebih baik di masa depan. Lebih baik kiranya memadailah. Sebab, masyarakat yang sempurna adalah utopia dan bukan sejarah.

Terapi

Untuk memecahkan masalah agresifitas, kita memerlukan dua program, satu mengenai dimensi keluasan manusia dan satu lagi mengenai dimensi kedalaman manusia. Dimensi keluasan dapat selesai dalam waktu singkat, sedangkan dimensi kedalaman memerlukan waktu panjang. Dimensi keluasan, seperti masalah politik dan ekonomi, kiranya dapat diselesaikan dengan gerakan politik, gerakan reformasi. Untuk dimensi kedalaman, kita memerlukan gerakan kebudayaan. Untuk tujuan kedualah, tulisan ini disusun.

Ada tiga hal yang diperlukan oleh gerakan kebudayaan untuk mengatasi tendensi self-destruction melalui agresivitas, yaitu transendensi (beriman dan beramal sholeh) dan pendidikan moralitas serta pengembangan estetika (kebenaran). Gerakan kebudayaan ini memerlukan waktu panjang. Karena itu, kita dituntut untuk bersabar, steadfast, persisten.

Kita perlu mengembalikan kesadaran kemanusiaan. Agresifitas terjadi karena ada kesenjangan antara kesadaran dan perilaku. Sebuah gerakan kebudayaan yang mengolah dimensi kedalaman manusia dalam jangka panjang akan dapat memulihkan kembali kesadaran itu. Tentu saja, yang masih harus menjadi pemikiran kita bersama ialah bagaimana proyek pembudayaan itu diimplementasikan.

Untuk mengembalikan kesadaran itu, khusus bagi mereka yang sedang belajar ilmu-ilmu social, psikologi, dan humaniora di perguruan tinggi, pendekatan yang positif, ilmiah, obyektif, netral, bebas nilai hendaknya digantikan dengan pendekatan yang humanistis.

Sumber : Kuntowijoyo; Menuju Tata Indonesia Baru, hal : 233-261






0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)