Sabtu, 22 Juni 2013 - 13:46:50 WIB
Couch Potato, Fans Bola Terbesar
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 19613 kali

Bagi peminat olahraga khususnya sepak bola, kata hooligan bukanlah kosakata asing lagi. Hooligan merujuk pada supporter fanatic Inggris yang hamper pada setiap pertandingan berbuah ulah, rusuh dan onar sehingga dalam banyak kasus supporter fanatic ini kerap berurusan dengan kepolisian karena tidak menunjukan sportivitas dan tidak bisa menerima kekalahan.

Kata hooligan tidak hanya berfungsi menjadi kata benda (nouns) saja yang berarti pendukung fanatic tim Inggris. Dalam konteks yang lebih luas, hooligan bisa pula berfungsi menjadi kata sifat (adjective), kata kerja (verb), dan kata keterangan (adverb). Semua kelompok kata tersebut mewakili perlaku, sifat, pekerjaan atau perbuatan, dan keterangan atau keadaan yang menggambarkan perilaku tidak sportif, tidak jantan, tidak mau mengakui dan menerima kekalahan, anarki, destruktif, serta fanatisme buta. Jadi, hooligan bukan hanya ada dalam kamus persepakbolaan, melainkan juga dapat diadopsi dalam realitas yang lain, termasuk politik.

Kekerasan dan kericuhan di sekitar pertandingan sepak bola bukanlah hal baru. Namun, para ahli ilmu social menilai, keganasan supporter Inggris adalah gejala baru. Maka, istilah hooligan pun berkembang menjadi hooliganisme. Hooliganisme diartikan sebagai tindakan atau perilaku kekerasan dan destruktif.

Para pendukung tim sepak bola sebenarnya bisa dibedakan dalam berbagai kategori :

1. Hooligan

Hooligan adalah fans bola yang brutal ketika tim idolanya kalah bertanding. Hooligan merupakan stereotip supporter bola dari Inggris, tapi kemudian menjadi fenomena global. Sebagian besar dari hooligan adalah para back-packer yang telah berpengalaman dalam bepergian. Mereka sering menonton pertandingan yang beresiko besar. Banyak dari mereka sering keluar masuk penjara karena sering terlibat bentrok fisik. Untuk mengantisipasi adanya kerusuhan, gaya berpakaian mereka pun sudah dipersiapkan untuk berkelahi. Mereka jarang menggunakan pakaian yang sama dengan tim pilihannya, dan memilih pakaian asal-asalan agar tak dideteksi oleh polisi. Meski demikian, mereka tak mau menggunakan senjata. Para hooligan biasanya tidak duduk dalam satu tempat bersama-sama, tetapi berpencar-pencar.

2. Ultras

Diambil dari bahasa Latin yang berarti diluar kebiasaan. Kalangan ultras tak pernah berhenti menyanyi mendengungkan yel-yel tim favoritnya selama pertandingan berlangsung. Mereka juga rela berdiri sepanjang permainan dan menyalakan gas warna-warni untuk mencari perhatian. Jika anda sering melihat pergerakan manusia seperti gelombang di dalam stadion, itulah hasil instruksi dari ultras yang sangat kreatif kepada penonton yang lain. Karakter mereka temperamental, seperti hooligan, jika timnya kalah bertanding atau diremehkan. Namun, berbeda dengan hooligan, tujuan utama mereka adalah mendukung tim, bukan untuk unjuk kekuatan lewat adu fisik. Anggota ultras adalah mereka yang sangat setia dan loyal terhadap tim favoritnya cukup lama.

3. The VIP

Bagi mereka, yang penting bukan menonton bola, melainkan supaya ditonton penonton lain. Sebagian besar kelompok ini adalah para pebisnis tingkat tinggi yang menyaksikan pertandingan di kotak VIP demi sebuah gengsi untuk pencitraan diri. Karena atas nama bisnis, segalanya dihitung sebagai investasi. Tak heran jika dalam area VIP atau yang biasa disebut skyboxes, para jutawan ini bisa bertemu dengan rekan bisnis lainnya dan menghasilkan kesepakatan-kesepakatan penting. Mereka tak peduli dengan hasil skor, kecuali itu akan mempengaruhi bisnis yang digelutinya.

4. Daddy/Mommy

Mereka adalah orang-orang yang suka melibatkan atau membawa anggota keluarga mereka saat menonton pertandingan. Bagi mereka, menonton pertandingan bola layaknya sebuah rekreasi keluarga untuk mempererat kebersamaan. Oleh karena itu, mereka menonton bola jika tiket tidak terlalu mahal atau hanya pada pertandingan penyisihan saja. Sebagian dari para Daddy/Mommy adalah karyawan professional yang gemar sepakbola, tapi tidak terlalu fanatic. Letak tempat duduk mereka saat menonton biasanya jauh dari hooligan dan ultras. Mereka mengkhawatirkan anak-anak mereka menjadi sasaran jika terjadi kericuhan massa.

5. Christmas Tree

Dipanggil Christmas Tree karena sekujur tubuh dan pakaiannya dipenuhi berbagai atribut tim mulai dari pin, badge, stiker, tato, corat-coret wajah, dan rambut dengan aneka gaya. Berbeda dengan ultras dan hooligan yang selalu laki-laki, Christmas Tree bisa laki-laki maupun perempuan, tampil sendiri-sendiri maupun berpasangan. Mereka tak hanya menonton sepakbola, tapi juga berusaha menunjukkan identitas Negara atau tim favoritnya lewat busana tradisional khas Negara mereka. Mereka biasanya duduk berkelompok di area yang jauh dari hooligan dan ultras.

6. The Expert

Sebagian besar adalah para pensiunan yang telah berumur. Mereka tak sayang menggunakan uang pensiunnya untuk bertaruh. Tak heran wajah mereka selalu tegang sepanjang pertandingan. Tak jarang pula mereka meneguk berbotol-botol minuman karena saking tegangnya. Namun, para ahli pertaruhan ini biasanya hanya tertarik pada pertandingan sekelas World Cup dan UEFA Cup, bukan pada pertandingan liga atau antar klub. Di tangan mereka selalu tergenggam telepon dan Koran untuk memprediksi akhir dari permainan. Letak duduk mereka selalu dekat gawang untuk memudahkan mereka berteriak member semangat. Layaknya pelatih, mereka juga mengarahkan strategi apa yang harus dijalankan pemain.

7. Couch Potato

Mungkin inilah kelompok terbesar dari fans sepakbola. Mereka ini tidak menonton langsung di stadion, tetapi lewat TV di rumah. Tipe ini berasumsi bahwa menonton melalui TV lebih nyaman daripada membuang uang untuk sebuah pertandingan yang belum tentu bagus. Prinsip fans jenis ini adalah murah meriah. Sambil menonton, tersedia selalu camilan dan minuman di dekatnya. Tak hanya keluarga, agar acara menonton bola lebih seru, mereka biasa mengundang tetangga dan keluarga besarnya. Akan tetapi, jangan salah, meski hanya di depan TV, mereka juga berdandan seolah olah ada di dalam lapangan. Kaos tim, bendera, dan segala macam atribut ikut meramaikan ajang menonton tersebut.

Sumber : The Land of Hooligans, Hari Wahyudi, hal: 85-104




0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)