Minggu, 07 Juli 2013 - 21:46:50 WIB
Dzikir, the Power of Sholat
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 12951 kali

Dzikir adalah generator yang mengirim energy (power) ke dalam hati. Dzikir adalah kekuatan inti dari sholat. Dzikir adalah nafs dengan pusat qolbu, maka dzikirlah yang menegakkan sholat.

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan yang hak selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku (QS Thaahaa: 14)

Dzikir sangat berperan dalam menegakkan sholat karena dzikir adalah dasar yang menjadi inti sholat. Ketika kita memasuki wilayah sholat dengan niat yang sangat rinci, kita telah memasuki wilayah yang benar, yaitu wilayah otak sadar. Kita berhati-hati menjaga niat karena niat itu rukun sholat. Wilayah otak sadar adalah wilayah nafsu lauwwamah yang dapat ditingkatkan menjadi nafsu muthmainah atau sebaliknya, terseret ke dalam nafsu amarah.

Target sholat kita seharusnya perpindahan dari postur qiyam ke postur rukuk, yaitu perpindahan dari proses tafakkur ke proses tadzakur. Dari proses perenungan maknawi ke dzikrullah, dari ikrar (statement) ke thumakninah, yang hanya dihasilkan melalui dzikir.

Perangkap setan dimulai pada wilayah nafsu lauwwamah dengan menyeret ke nafsu amarah, dengan cara :

1. Menjadikan sholat biasa-biasa saja
2. Menjadikan sholat tempat berkhayal dan melamun
3. Menjadikan sholat yang wajib sebagai beban kewajiban
4. Menjadikan sholat sebagai bagian dari solusi, menjadi bagian dari masalah yang harus diatas
5. Terlalu ahli dalam sholat, baik dalam hal ilmu, banyaknya sholat dan hitamnya dahi menjadikan sombong, bangga diri, riya, dan memperdengar-dengarkan diri, yang dapat memunculkan penyakit iri, dengki, fitnah dan namimah (cerita benar untuk menjelekkan orang).

6. Sholat hanya sekedar memenuhi kewajiban, hanya memenuhi egonya yang hebat. Hilanglah nilai ibadahnya dan hal ini akan menjerumuskan ke dalam wail (kecelakan).

Bila cara-cara tersebut terlaksana, maka sukseslah setan memerangkap kita ke otak bawah sadar, ke wilayah nafsu yang mengarah pada perbuatan buruk. Sholat dilakukan secara reflex, padahal seharusnya dilakukan melalui pilihan sadar (ikhtiari).

Di wilayah otak sadar (nafs lauwwamah), pilihan sadar menembus ke nafsu muthmainah, semua postur tubuh dituntut thumakninah dalam rukun sholat kecuali pada postur qiyam.

Tuntutan rukun sholat untuk thumakninah ini hanya dapat diwujudkan oleh dzikir, baik yang dilatihkan di luar sholat maupun yang dilakukan di dalam sholat, yang akan mendorong nafsu kita berada dalam nafsu muthmainah.

Dari keadaan thumakninah inilah, kita tawakal kepada Allah untuk dapat mencapai khusuk, remote control Allah menuntun kita melalui sensor yang ada di otak kita yang para ahli syaraf menamakannya God Spot.

Surat Huud ayat 56 mengisyaratkan tentang adanya sensor di otak ubun-ubun dan dikendalikan Allah : Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. (QS Huud: 56).

Maka orang yang sering mendirikan sholat akan mencapai ekstase (wajd) dan mendapatkan fana. Di sinilah khusuk dialami sebagai pengalaman yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata. Haruskah mencapai khusuk dalam sholat? Karena khusuk tidak dapat dicapai setiap orang dan di setiap waktu, maka khusuk tidak masuk dalam rukun. Yang masuk dalam rukun hanyalah sampai peringkat thumakninah di wilayah otak sadar dan yang celaka adalah yang masuk ke peringkat nafsu amarah, terseret kepada ghodhob dan dholliin atau gagal mencapai shirathal mustaqim.

Sumber : The power of Dzikir, Munadi, hal: 186-190






0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)