Minggu, 17 Juli 2013 - 21:46:50 WIB
Berhala Kontemporer
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 3279 kali

Pengertian tentang berhala buat kali pertama saya dengar ketika dalam usia enam tahun, saya mengaji di langgar Nenek yang berlantais geladak bamboo. Selain mengajar alif-ba-ta, guru ngaji saya menyisihkan kaidah-kaidah tauhid kepada anak-anak. Bila menerangkan soal syirik, guru saya tak pernah absen bercerita tentang berhala.

Berhala, demikian pengertian yang saya terima ketika masa kanak-kanak, ialah patung berbentuk manusia atau binatang yang dipahat dari batu. Dulu, pada zaman kebodohan, berpuluh-puluh berhala memenuhi Baitullah. Penghulu para berhala itu bernama Lata dan Uzza. Percaya bahwa berhala mampu mendatangkan kemasalahatan, baik menganggapnya sebagai tuhan atau perantaranya adalah syirik. Guru ngaji saya sungguh tidak bosan mengatakan bahwa syirik adalah dosa besar yang takkan mendapat ampunan Allah Yang Maha Kuasa.

Konsep tentang berhala dan syirik yang mengelilinginya sudah mengental demikian peka, sehingga terasa kini ummat menjadi lengah, bahwa berhala sebagai sembahan telah merubah dirinya ke dalam bentuk lain.

Berhala tempo dulu memang serba sederhana, kongkrit ujudnya. Sedangkan berhala baru canggih segalanya, abstrak ujudnya, halus luar biasa dan kadang punya daya tarik yang begitu merangsang. Dia bisa datang sebagai isme-isme dari hedonisme, konsumerisme sampai ke humanism universal yang bercorak agnostic (mempersetankan ada-tidaknya tuhan) serta sederet isme lainnya. Sembahan baru lainnya adalah premis-premis, symbol-simbol, atau norma-norma non-islam, tetapi nyatanya terlanjur mempunyai akar kuat di kalangan ummat.

Mutiara yang hilang

Kini makin sering terdengar suara dari kalangan intelektual Islam : tengoklah kembali si mutiara yang hilang, semangat lebih mendekatkan diri kepada Allah, yakni tasauf. Pemikir-pemikir Islam sampai pada kesimpulan bahwa tasauf adalah salah satu cara terbaik untuk mengembalikan ummat kepada garis semula. Dengan semangat tasauf, kita meyakini secara total bahwa apa yang berada di sisi Allah lebih baik dari apa pun yang menjadi pesona dunia. Kita juga akan mencari dan menemukan titik yang tepat antara berharap akan pahala di akherat dengan sambil tidak melupakan hak kita di dunia. Sunnah Rasul bahwa kita harus beramal untuk akhirat seakan hendak mati besok pagi, dan kita bekerja untuk dunia seakan kita mau hidup selama-lamanya, harus diartikan dalam semangat tasauf pula. Mati besok pagi adalah suatu kemungkinan, tetapi hidup selama-lamanya adalah sebuah kemustahilan. Sementara itu, kampong akhirat lebih baik bagi kaum yang beriman adalah suatu kepastian, seorang muslim yang ikhlas tentu lebih suka kepada yang pasti atau mungkin baik daripada memilih kemustahilan yang lebih tepat ditempatkan sebagai pemisalan.

Dua monster

Lata dan Uzza adalah biang-biang berhala zaman kebodohan. Berhala kontemporer juga mempunyai dua monster, yakni konsep dari Barat tentang hak-milik kebendaan serta konsep tentang kemajuan.

Di luar Islam, hak atas benda pada umumnya mengikuti konsep warisan Yunani purba yang menempatkan manusia sebagai wakil mutlak Tuhan; dia manusia merasa punya kuasa tanpa batas atas harta benda yang dimilikinya. Dia boleh menikmatinya sepuas hati, boleh menelantarkannya, bahkan boleh memustahilkan harta benda bila dia mau. Dalam konsep ini, harta benda hanya mempunyai nilai ekonomi menurut kepentingan perorangan atau kelompok terbatas.

Ternyata konsep inilah yang menguasai masyarakat, termasuk masyarakat muslim. Sinyalemen ini didukung oleh bukti seretnya amal zakat, nihilnya baitul mal, perhatian yang minim terhadap fuqara wal masakin wal yatima serta kurus-keringnya lembaga infak dan sadaqah. Konsep islami tentang hak atas benda yang mempunyai titik berat fungsi social kelihatan sudah tergeser. Yang berkembang biak adalah gejala-gejala yang bertentangan dengan jiwa konsep yang islami itu. Erosi persaudaraan antar kaum muslim yang diakibatkan oleh gaya hidup individualistic makin tampak nyata. Demikian juga halnya tolok-ukur yang berkembang di kalangan umat, adalah tolok ukur yang berciri sekularistik.

Koefisien arah

Penghulu berhala lainnya adalah konsep tentang KEMAJUAN. Dalam artian popular, kemajuan ialah perbaikan ekonomi, penemuan baru dibidang ilmu dan teknologi dan perkembangan cara berfikir modern. Kemajuan seperti yang kita lihat sekarang berdasarkan kaidah pertumbuhan dan ternyata pula merupakan dinamika yang tidak membatasi diri hanya pada hal-hal yang mendatangkan kemaslahatan bersama.

Kemajuan di Negara-negara yang kaya harus ditebus dengan kepincangan system ekonomi global yang mengakibatkan kemiskinan tiga perempat penduduk bumi di Asia, Afrika dan Amerika Latin. Industry-industri raksasa yang lahir menandai kemajuan teknologi dan sain terus melangkah cepat mendekati garis batas pertumbuhan sambil menabur dampak negative pada sekian banyak aspek kehidupan manusia. Kemajuan ialah pemenuhan kebutuhan-kebutuhan ekonomi dengan meruntuhkan dimensi-dimensi rohaniah kehidupan manusia, demikian kata seorang ahli konservasi alam Prancis.

Islam adalah agama kemajuan. Tetapi konsep kemajuan dalam Islam berdiri di atas tiga kaidah-kaidah keberimbangan (balance), oleh karenanya tidak mengenal limit growth. Bukanlah kemajuan, menurut Islam, sebuah dinamika yang merupakan nilai tambah bagi kemakmuran segolongan manusia apalagi perorangan. Bukan pula kemajuan, menurut Islam, bila ilmu dan teknologi mengakibatkan kerusakan alam atau menggerogoti harkat kemanusiaan. Kesejahteraan hidup manusia secara keseluruhan adalah focus kemajuan menurut Islam dan penghayatan dan pengalaman agama ialah jalannya ke sana.

Saying, berhala-berhala baru yang demikian banyak telah membuat banyak kaum muslimin merasa asing terhadap agamanya. Maju mengikuti konsep dari luar Islam adalah maju asal maju; tanpa merenungkan dulu hakikat kemajuan menurut Islam dan tidak memperhitungkan koefisien arah yang tepat. Kadang, kemajuan diberi makna yang sempit dan keliru sebagai prestasi di bidang karir atau ekonomi. Lebih sempit lagi bila kemajuan diartikan sebagai sikap berani menarik garis yang tegas dan tidak bersahabat untuk memisahkan Islam tradisional dan yang maju.

Kalau Amahedi Mazhar mengatakan hendaknya tasauf dimasukan kembali sebagai dimensi mistik dalam jalur kebangkitan Islam, saya akan cepat mengangkat tangan setuju. Salah satu langkah awal bagi kebangkitan Islam adalah penyingkiran berhala-berhala baru. Disini, aspek tasauf dalam dosis yang tepat adalah obat mujarab anti berhala kontemporer.

Sumber : Berhala Kontemporer, Ahmad Tohari, hal : 3-6






0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)