Minggu, 21 Juli 2013 - 21:46:50 WIB
Efek Terapi Obat
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 60298 kali

Obat yang diberikan pada pasien akan banyak mengalami proses sebelum sampai pada tempat tujuan aksinya atau jaringan sasaran. Secara garis besar, proses-proses ini dapat dibagi menjadi tiga tingkat atau fase, yaitu : fase biofarmasetik atau farmasetik, fase farmakokinetik dan fase farmakodinamik.

Untuk menghasilkan efek farmakologi atau efek terapi, obat harus mencapati jaringan sasaran aksinya dalam konsentrasi yang cukup untuk menimbulkan respon atau efek terapi. Tercapainya konsentrasi obat tergantung dari jumlah obat yang diberikan, tergantung pada keadaan dan kecepatan obat diabsorpsi dari tempat pemberian dan tergantung pada distribusinya oleh aliran darah ke bagian badan yang lain.

Efek karakteristik obat akan hilang, apabila obat telah bergerak keluar dari badan dan konsekuensi dari letak aksinya, baik dalam bentuk yang tak berubah, atau dalam bentuk setelah mengalami metabolisme dan terjadi metabolit yang dikeluarkan melalui proses ekskresi. Oleh karena itu sangat penting untuk diketahui bagaimana cara badan menangani obat dengan proses absorpsi, distribusi, metabolism dan ekskresi, apabila kita menentukan suatu dosis, rute dan bentuk obat yang diberikan bila dikehendaki efek terapi yang diinginkan dengan efek toksis yang minimal.

Perjalanan obat dalam badan adalah dari bentuk sediaan obat (dengan zat aktif), obat akan mengalami pecah menjadi granul, dan zat aktif terlepas dan larut pada fase biofarmasetik, sehingga obat siap untuk diabsorpsi (ketersediaan farmasi). Kemudian pada fase farmakokinetik terjadi absorpsi obat, distribusi, metabolism dan ekskresi obat. Ketersediaan hayati obat setelah fase farmakokinetik ini agar dapat memberi efek terapi maka harus berinteraksi dengan reseptor di tempat aksi obat tersebut pada fase farmakodinamik.

Pengertian dari ketiga fase tersebut adalah :

Fase farmasetik :

Fase ini meliputi waktu mulai penggunaan sediaan obat melalui mulut hingga pelepasan zat aktifnya ke dalam cairan tubuh. Sebagai contoh tablet mengandung hanya 5-10% zat aktif, 90% zat tambahan terdiri dari 80% pengencer, zat pengikat dan 10% zat penghancur tablet. Yang penting dalam hubungan dengan fase ini adalah ketersediaan farmasi dari zat aktifnya, yaitu obat siap untuk diabsorpsi.

Fase farmakokinetik :

Fase ini meliputi waktu selama obat diangkut ke organ yang ditentukan, setelah obat dilepas dari bentuk sediaan. Obat harus diabsorpsi ke dalam darah, yang akan segera didistribusikan melalui tiap-tiap jaringan dalam tubuh. Dalam darah obat dapat mengikat protein darah dan mengalami metabolism, terutama dalam melintasi hati. Meskipun obat akan didistribusikan melalui badan, tetapi hanya sedikit yang tersedia untuk diikat pada struktur yang telah ditentukan. Perlu diketahui bahwa jaringan yang ditentukan tidak perlu identik dengan jaringan respon.

Fase farmakodinamik :

Bila obat telah berinteraksi dengan sisi reseptor biasanya protein membrane akan menimbulkan respon biologic. Tujuan dari fase ini adalah optimalisasi dari efek biologic ini.

Sumber : Perjalanan dan Nasib Obat dalam Badan, Moh. Anief, hal : 1-3






0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)