Minggu, 21 Juli 2013 - 21:46:50 WIB
Financial Freedom
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 11362 kali

Tatkala menulis If You Want to be Rich and Happy (1992), Robert T Kiyosaki ingin menunjukan kepada setiap orang, bahwa untuk menghasilkan uang tidaklah dibutuhkan uang. Demikian juga tidak diperlukan pendidikan formal yang bagus serta persyaratan lain yang sering dijadikan dalih oleh mereka yang gagal mencari kekayaan.

Dia mencontoh tentang dirinya sendiri, yang masih tuna wisma pada 1985 hingga menjadi kaya pada 1989, serta mencapai apa yang disebutnya kebebasan keuangan (financial freedom) tahun 1994.

Yang dibutuhkan untuk mencapai semua itu, tegas Kiyosaki ialah impian, tekad besar, kesediaan untuk cepat belajar dan kemampuan menggunakan asset dengan benar yang merupakan pemberian Tuhan.

Dalam buku-buku berikutnya, Rich Dad, Poor Dad (1997), Cashflow Quadrant (1998) serta seri Ayah Kaya lanjutannya, kembali ia menandaskan untuk mencapai kekayaan seseorang harus tahu pada posisi mana semestinya dalam memperoleh penghasilan. Intinya, dia membagi sumber penghasilan seseorang pada empat kuadaran, yaitu sebagai Employee (E), Self-Employeed (S), Business-owner (B) dan Investor (I).

Pada kuadran sebelah kiri E dan S, seorang mesti bekerja untuk mendapat active income, dan itu diperoleh melalui aktivitas secara individual. Potensi penghasilan pada kuadran ini terbatas dan hanya menjanjikan keamanan keuangan (Financial security).

Sedangkan kuadran sebelah kanan B dan I, seseorang dituntut beroperasi sebagai kelompok dan membangun jaringan sebanyak mungkin agar potensi penghasilannya tidak terbatas. Untuk sampai pada titik kebebasan keuangan itu hanya bisa dicapai pada orang yang berada pada kuadran ini.

Melalui buku-buku seri Ayah Kaya, dikatakan semua orang berpotensi memperoleh penghasilan dari keempat kuadran. Kita tinggal memilih salah satu posisi kuadran, atau malah kalau mau dapat berada pada keempat kuadran pada saat yang sama.

Disamping kritikannya tentang system kurikulum pendidikan di AS saat itu yang amburadul, buku-buku itu kalau boleh dikatakan merupakan cerminan rasa frustasi Kiyosaki yang tidak mengenyam bangku sekolahan. Karena setelah lulus SMA dia langsung masuk korp mariner dan menjadi pilot helicopter dalam perang Vietnam.

Dia ingin menafikan anggapan umum bangsa Amerika yang mengagungkan pendidikan tinggi sebagai jalur untuk memperoleh penghasilan tinggi seperti tradisi income-nya para bankir, dokter, insinyur maupun pengacara. Katanya untuk memperoleh penghasilan utama tidak terlalu bergantung pada apa yang dipelajari di sekolahan. Hal tersebut lebih bergantung pada siapa diri orang itu : nilai, kekuatan, kelemahan dan minat intinya.

Kiyosaki mengajarkan pula mengenai kecerdasan keuangan (Financial intelligence) yang merupakan sinergi dari akuntansi, investasi, pemasaran dan hukum. Menggabungkan keempat ketrampilan teknis itu akan menghasilkan uang dengan lebih mudah.

Kiyosaki memang tidak bersekolah tinggi, tetapi dia dianugerahi Tuhan berupa talenta luar biasa untuk mencari kekayaan, termasuk kemampuannya menulis buku. New York Times melaporkan bahwa buku seri Ayah Kaya telah diterjemahkan ke dalam 46 bahasa, tersedia di 97 negara, terjual lebih dari 26 juta eksemplar di seluruh dunia, dan mendominasi daftar buku terlaris di hampir lima benua.

Kita patut berterima kasih kepada Kiyosaki. Sebab, melalui karya-karya tulisnya banyak orang terinspirasi untuk mendapatkan kekayaan secara obyektif dan lebih terarah.

Sumber : Kaya dari Properti, Budi Santoso, hal : 6-9






0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)