Kamis, 01 Agustus 2013 - 21:46:50 WIB
Doktor Hororis Causa???
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 4174 kali

Enam macam Doktor di Indonesia

Pertama, doctor disertasi, yaitu gelar doctor yang diraih oleh seseorang setelah yang bersangkutan selesai mengikuti program S3 dan berhasil mempertahankan disertasinya di depan dewan penguji yang terdiri dari para guru besar.

Disertasi itu sendiri ditulis berdasarkan hasil riset di bawah bimbingan seorang promoter yang ahli dalam bidangnya. Untuk dapat ikut program S3 itu, seseorang harus melalui seleksi ketat, apalagi bila S3 itu ditempuh di Negara-negara maju, setidaknya harus menguasai bahasa Negara yang bersangkutan. Inilah gelar doctor yang sesungguhnya karena dicapai melalui proses yang panjang, kerja keras, dan tidak dapat dibeli atau diminta.

Kedua, Doktor Honoris Causa (Dr. HC), yaitu gelar doctor kehormatan yang diberikan kepada seseorang yang dianggap telah berjasa dalam bidang tertentu, terutama untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Orang Indonesia yang terbanyak memperoleh gelar doctor HC adalah Presiden Soekarno, konon sampai 26 gelar doctor honoris causa.

Tapi gelar doctor HC yang tercecer dimana-mana sekarang ini sulit dipahami, karena tidak tahu buah pikirannya, apalagi karya tulis atau karya lainnya yang dinikmati oleh public, tetapi tiba-tiba menyandang gelar Doktor Honoris Causa dari Belgedes University atau Rakaruan University, misalnya. Yang menyedihkan, gila gelar doctor HC yang dapat dibeli secara instan itu telah mewabah ke berbagai kalangan, baik pejabat, pengusaha maupun pengurus partai.

Ketiga, gelar Doktor Humoris Causa, yaitu gelar doctor yang diberikan kepada seseorang yang karena tingkat kecerdasannya mampu menciptakan humor-humor atau lelucon yang menghibur sekaligus mencerdaskan masyarakat. Orang-orang seperti Gus Mus, Jaya Suprana, Tukul Arwana dan sebagainya sebetulnya pantas menerima anugerah Doktor Humoris Causa tersebut. Sayang, sampai sekarang, belum ada institusi yang berhak memberikan gelar doctor tersebut karena adanya anggapan keliru bahwa pekerjaan membuat orang bisa ketawa dianggapnya tidak intelek.

Keempat, gelar Doktor Hororis Causa. Kata hororis berasal dari kata horror atau menakutkan. Disebut demikian, karena sumbernya dinilai tidak jelas, juga karena gelar itu dipakai untuk menakut-nakuti masyarakat, ini lho saya bergelar doctor, jadi jangan main-main, barangkali begitu yang ada di benak mereka. Gelar doctor semacam ini biasanya diberikan oleh institusi-institusi seperti Belgedes Univerity atau Rakaruan University tadi, yang kampusnya ada di hotel-hotel berbintang, ruko, rumah biasa di kampong yang disewa untuk itu, atau di luar negeri. Cara memperolehnya pun cukup dengan membayar uang sebesar Rp 1 juta sampai Rp 25 juta. Tergantung ingin diwisuda dimana, di Indonesia atau di luar negeri. Kalau di Indonesia, cukup Rp 5 juta.

Kelima, Doktor Tiban, yaitu gelar doctor yang tidak diketahui asal-usulnya, tahu-tahu kita membaca bahwa yang bersangkutan telah menyandang gelar doctor, dua gelar sekaligus, meskipun yang bersangkutan tidak pernah mengikuti program S3 baik di dalam maupun di luar negeri.

Keenam, Doktor Palsu, yaitu gelar doctor yang dipakai oleh seseorang yang bukan doctor (diluar kelima jenis doctor tersebut). Penulisan itu dilakukan berdasarkan kesengajaan maupun tidak sengaja, baik oleh orang yang bersangkutan maupun orang lain.

Sumber : Pendidikan Rusak-rusakan, Darmaningtyas, hal : 228-230






0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)