Kamis, 04 Agustus 2013 - 21:46:50 WIB
Sasmita Tuhan
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 1664 kali

Dalam kumpulan cerita Jacob Grimm dan Wilhelm Grimm yang dihimpun Ralph Meinhein, diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Arya Setaka, Jakarta, ada kisah kakek dan cucunya. Si kakek hamper buta dan tuli dan lututnya selalu gemetar. Tiap duduk di meja makan, sulit ia mengangkat sendok. Sup yang disendoknya sering tumpah kembali dan taplak meja pun basah akibatnya.

Anak lelakinya dan istri anaknya itu menganggap hal itu menjijikan. Diam-diam mereka tergoda menempatkan orang tua mereka di tempat terpisah. Ia diberi tempat di pojok, dekat perapian. Makanan utamanya selalu diantar ke tempat itu dalam mangkok tanah liat.

Cuma sedikit makanan yang bisa ditampung di mangkok itu dan si kakek tampak sedih tiap kali menatap meja makan. Matanya berlinang-linang.

Suatu hari tangannya bergetar dahsyat. Mangkok yang dipegangnya terpental di lantai, remuk berkeping-keping. Menantu perempuannya yang tak ramah itu memarahinya habis-habisan. Dan kini ia harus makan dengan mangkok kayu. Ya, mangkok kayu. Apa boleh buat.

Suatu hari, cucunya yang baru berumur empat tahun bermain di lantai dengan potongan-potongan kayu. Ayah dan ibu si anak bertanya, apa yang sedang dilakukannya. Dan si bocah pun dengan polos menjawab : Aku membuat tempat makanan dari kayu, untuk ayah dan ibu kelak bila sudah tua.

Anak kecil dalam cerita Grimm di atas memperlihatkan ia meniru tingkah laku orang tuanya. Ucapannya bahwa ia membuat tempat makan dari kayu untuk persiapan ayah dan ibunya kelak, bila mereka sudah tua, seperti tamparan tajam di wajah kita.

Anak kecil sering mewakili sabda Tuhan. Dalam cerita Grimm itu digambarkan, kedua orang tua si bocah kaget. Mereka sadar telah berbuat aniaya kepada orang tua mereka sendiri. Dan sejak itu mereka mulai lagi dari nol, belajar meluhurkannya.

Betapa bahagia mereka yang tanggap sasmita Tuhan. Ketika dalam politik atau bisnis kita menjegal pihak lain, mungkin cucu kita pun menjegal teman sebayanya di halaman.

Apa ini artinya? Artinya, mungkin, Tuhan bersabda : Silakan jegallah orang lain bila engkau pun ingin suatu saat terjegal-jegal.

Sumber : Sasmita Tuhan, Moh. Sobary, hal : 67-70






0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)