Rabu, 14 Agustus 2013 - 21:46:50 WIB
Lessons From Survivors
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 1334 kali

Perusahaan-perusahaan Asia dapat ditabulasikan dalam matriks dua dimensi yang mengukur tingkat kesehatan financial (financial soundness) dan tingkat daya saing pasar (market competitiveness) mereka.

Dimensi pertama (kesehatan financial) mengacu kepada kemampuan tiap perusahaan untuk mengelola sumber daya financial mereka dengan mempertahankan sebuah struktur financial optimum, mengelola persyaratan working capital, meraih keuntungan yang sehat, dan melaksanakan asset portfolio management yang baik.

Dimensi kedua (daya saing) mengacu kepada kemampuan perusahaan untuk mengelola asset-aset kompetitif dengan membangun brand equity yang kuat, menciptakan basis pelanggan yang loyal, mencapai kualitas produk yang ulung, menjadi inovatif, membangun skala ekonomis yang efisien, dan mengembangkan strategi bisniss yang efektif.

Menggunakan dimensi-dimensi di atas sebagai variable, tiap perusahaan dapat dikelompokkan sebagai bubble, aggressive, conservative atau sustainable.

Perusahaan BUBBLE didefinisikan sebagai perusahaan dengan kinerja yang buruk dalam hal daya saing pasar dan kemampuan finansialnya. Contoh perusahaan BUBBLE dapat ditemukan di antara chaebol dari Korea seperti Samsung, Hyundai, Daewoo, dan LG, sebagaimana juga konglomerat dari Negara-negara Asia lainnya. Chaebol khususnya di waktu lampau sangat terobsesi dengan pertumbuhan sehingga mereka berekspansi ke berbagai sector industry, menghabiskan utang yang sangat besar dalam prosesnya. Tindakan agresif ini mengkikis daya saing mereka.

Agar mampu menjadi sustainable, perusahaan BUBBLE ini harus membuat vectoral shift yaitu meningkatkan daya saing pasar (vertical shift) dan meningkatkan kinerja financial (horizontal shift). Vertical shift berarti meningkatkan daya saing dengan cara melakukan focus ulang pada bisnisnya dan meninjau kembali strategi bisnisnya. Alternative lain, perusahaan pertama-tama dapat berkonsentrasi pada peningkatan daya saing sebelum membenahi masalah financial. Sementara, horizontal shift berarti memperbaiki situasi financial dengan cara melakukan restrukturisasi utang dan memperbaiki risk management.

Perusahaan-perusahaan AGGRESSIVE adalah mereka yang mampu bersaing pada tingkal regional, atau bahkan global, tetapi mengalami kesulitan financial akibat ketergantungan mereka pada pembiayaan bisnis lewat utang (debt financing) atau praktek financial yang tidak sehat. Contohnya adalah Astra International dan Indofood Sukses Makmur dari Indonesia, Siam Cement dari Thailand dan San Miguel dari Philipina. Perusahaan-perusahaan ini biasanya memiliki asset-aset kompetitif yang kuat seperti produk dan service yang unggul, merk yang kuat, strategi pemasaran yang efektif, dan skala ekonomis. Namun, mereka bergantung kepada pinjaman jangka pendek yang sangat besar, biasanya tanpa di-hedge, untuk membiayai proyek-proyek atau pekerjaan mereka.

Untuk memperbaiki posisi mereka, perusahaan-perusahaan ini perlu membuat horizontal shift untuk menyembuhkan masalah-masalah financial, dan pada saat yang sama juga mempertahankan daya saing. Mereka harus tetap memperbesar asset-aset kompetitif dengan mempertahankan atau meningkatkan brand equity, kualitas produk, dan produktivitas mereka.

Perusahaan-perusahaan CONSERVATIVE adalah mereka yang secara relative telah memiliki posisi financial yang bagus, walaupun mereka memiliki kelemahan dalam hal daya saing pasar. Agar mampu menjadi perusahaan yang sustainable, perusahaan conservative perlu melakukan vertical shift dengan meningkatkan kualitas produk, mendapatkan asset-aset kompetitif yang baru, menjadi inovatif, memperkuat brand equity mereka, memperbaiki proses bisnis mereka melalui implementasi teknologi canggih, dan memperbesar kompetensi.

Perusahaan-perusahaan SUSTAINABLE adalah mereka yang memiliki daya saing regional atau global yang kuat dan manajemen financial yang baik. Mereka umumnya memiliki asset-aset kompetitif yang kuat, dan mampu memberikan superior value kepada para pelanggan, pemegang saham, dan karyawan mereka. Ini adalah perusahaan-perusahaan yang menjadi role model dalam wilayahnya. Mereka biasanya memiliki strategi bisnis yang established dan efektif serta outlook financial yang konservatif. Mereka adalah investor-investor yang cerdas dan memiliki debt-to-equity ratio yang rendah.

Masing-masing perusahaan dalam tiap kategori menghadapi masalah dan tantangan yang berbeda, strategi yang mereka terapkan tentunya juga berbeda. Masalah utama yang dihadapi perusahaan AGGRESSIVE misalnya, adalah bagaimana mengatasi utang secepat dan seefektif mungkin. Hal sebaliknya untuk perusahaan CONSERVATIVE, karena tantangan utama yang dihadapi adalah bagaimana memperkuat daya saing, strategi mereka diarahkan lebih untuk memperkuat brand equity atau menjadi inovatif. Sementara cara terbaik dan tercepat bagi perusahaan BUBBLE untuk mengatasi masalah dan tantangannya adalah mengimplementasikan program turnround komprehensif yang mencakup peningkatan daya saing dan financial, seperti yang telah dilakukan oleh Samsung Electronics dan LG Group.

Sumber : MarkPlus on Strategy, Hermawan Kertajaya, hal : 304-310






0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)