Sabtu, 17 Agustus 2010 - 22:46:50 WIB
Value, Quality & Price
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 913 kali

Dr Linda Lim, ahli ekonomi Asia Tenggara dari Universitas Michigan, pernah mengatakan bahwa barang kali lebih mudah menjual berlian di kota-kota besar Indonesia ketimbang di Singapura walaupun pendapatan perkapita Singapura jauh lebih tinggi dibanding Indonesia. Selain karena jumlah absolut orang yang mampu membelinya di Singapura belum tentu lebih banyak, juga system nilai yang dianut bisa jauh berbeda.

Ada sebuah penelitian yang menarik tentang pengertian value, yang dilakukan oleh Valerie Zeithami dan kawan-kawan di Amerika Serikat. Mereka menemukan, ternyata ada empat macam definisi valuable bagi konsumen. Dan, keempat definisi itu berbeda menurut system nilai yang dianut.

Pertama, ada orang yang baru menyatakan bahwa sebuah produk punya nilai jika dia bisa membeli dengan harga murah atau harga khusus. Orang seperti ini selalu bangga karena bisa membeli dengan kupon diskon. Dia selalu menunggu periode sale, karena pada saat itu dia merasa mendapat value untuk suatu produk yang sama. Yang penting, he or she can get the same product or service by giving less. Orang seperti ini juga menyempatkan waktu untuk pergi ke toko-toko diskon untuk mengejar harga murah.

Kedua, ada jenis orang lain yang justru terbalik 180 derajat. Dia tidak peduli harga, tapi dia mengutamakan produk yang dicari. Dia merasa telah mendapat sebuah valuable product jika fitur yang dicari atau manfaat yang diinginkan ditemukan pada produk tersebut. Bagi dia harga bukan persoalan. Orang seperti ini akan mengejar new arrivals, sebab produk-produk seperti itulah yang bernilai bagi dia. Dia tidak pernah menyesal, apabila pada suatu saat yang lain atau di tempat lain, produk yang sama ternyata dijual dengan harga lebih murah. Yang penting dia menemukan sesuatu yang dia cari.

Ketiga, orang yang pintar membandingkan antara harga yang dibayar dan kualitas produk yang didapat. Disini, secara sederhana pengertian value adalah quality dibagi price. Orang seperti ini pintar berhitung dan membandingkan produk yang satu dengan yang lain. Dia biasanya juga teliti sebelum membeli. Namun, persoalannya, di sini yang dianggap kualitas produk sebenarnya lebih bersifat perceived quality. Untuk jenis ketiga ini, kata value sering juga berubah jadi perceived value. Suatu nilai menurut persepsi orang yang bersangkutan bisa saja berbeda untuk orang lain.

Keempat, ini adalah pengertian value yang lebih komplet karena melibatkan semua get components dan give components. Product quality hanya sebagian dari get components. Oleh karena itu, orang pada kategori ini juga menimbang manfaat lain. Biasanya manfaat emosional seperti rasa bangga, kenyamanan, dan kepraktisan merupakan hal yang melengkapi kualitas produk. Sedangkan give components juga meliputi biaya lain di luar harga yang harus dibayar. Biaya order, transportasi, pergudangan, bahkan biaya pemeliharaan merupakan beberapa contoh yang melengkapi price. Di sini, value didefinisikan sebagai total get components dibagi total give components.

Pasar produk premium bisa terbentuk apabila ada suatu segmen pasar yang bisa menghargai value, terutama dari kategori kedua, ketiga, dan keempat. Dengan menggunakan konsep value seperti itu, seorang produsen bisa membuat sebuah produk dengan harga lebih tinggi asalkan memperhatikan target pasar dengan system nilai yang tepat.

Jika segmen pasar kategori kedua yang akan diambil, haruslah dibuat sebuah produk yang memang sudah ditunggu oleh konsumen. Jika segmen pasar kategori ketiga yang akan dituju, peningkatan produk harus dipersepsikan lebih tinggi daripada perbedaan harga antara produk baru dan lama. Sedangkan jika segmen pasar kategori keempat yang ingin diraih, tentunya peningkatan total get components harus dianggap oleh konsumen lebih tinggi daripada peningkatan total give components.

Sumber : Hermawan Kertajaya on Brand, hal : 114-118


hosting





0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)