Kamis, 29 Agustus 2013 - 22:46:50 WIB
Biang Krisis Finansial
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 962 kali

Pada dasarnya krisis financial adalah sebuah kejadian yang terus berulang. Jika jarak pandang kita disempitkan dalam perspektif sejarah mulai tahun 1980-an saja, telah sekian banyak kejadian krisis terus berulang. Mulai dari internet buble, krisis Amarika Latin, Krisis Asia, krisis Rusia yang dipicu oleh hedge fund ternama Longterm Capital Management (LTCM) dan krisis financial global hebat pada tahun 2007/2008. Krisis tersebut dipicu oleh gejolak di pasar surat utang berbasis perumahan yang berkualitas rendah (subprime mortgage).

Jika sesuatu terus menerus berulang, bisa jadi kejadian tersebut berakar pada masalah yang sama. Apakah krisis yang dipicu oleh gejolak financial masih akan terus terjadi pada masa depan? Jawabannya sangat jelas, pasti akan terjadi.

Dalam bukunya yang berjudul Manias, Panics and Crashes : A History of Financial Crises, Kindleberger dan Robert Z Aliber menulis dengan lugas bahwa gejolak financial selalu diawali oleh kepanikan. Kepanikan terjadi bukan saja saat terjadi gejolak krisis, melainkan terjadi pula pada saat perekonomian sedang membaik (booming). Saat ekonomi membaik, para pelaku ekonomi panic melakukan investasi sehingga perekonomian kelebihan kapasitas (over-investment). Dan karena terjadi investasi berlebihan, perekonomian melakukan koreksi dalam bentuk krisis. Tatkala krisis, para pelaku ekonomi kembali mengalami kepanikan, kali ini adalah kepanikan membuang investasi mereka. Akibatnya, perekonomian mengalami kekurangan likuiditas untuk menggerakkan perekonomian.

Kepanikan adalah akar dari krisis financial modern. Mengapa para pelaku ekonomi begitu sangat rentan terhadap berita buruk, stimulus negative, dan gejolak dari berbagai indicator makroekonomi? Kita harus melihatnya dalam interaksi antara perilaku actor ekonomi (behavior) dan factor-faktor kelembagaan (institutions). Interaksi behavior dan institution inilah yang akan menentukan seberapa parah dan seberapa sering gejolak financial yang dipicu oleh kepanikan akan terjadi.

Turbulensi financial bisa melanda system perbankan nasional, nilai tukar, dan harga asset-aset. Seringkali kegentingan melanda dari satu sector ke sector lain sehingga dalam waktu cepat bisa segera meluluhlantakan perekonomian. Hal seperti ini sering disebut sebagai hukum tentang kemerosotan situasi secara total (the law of the deterioration of everything).

Hukum itu biasanya terjadi setelah terjadi fase penumpukan kesejahteraan secara progresif. Studi dan kajian tentang bagaimana kekayaan meningkat, evolusi system internasional, dan peran teknologi informasi menjadi penting untuk memetakan persoalan pada masa depan. Satu hal lagi yang penting adalah perilaku negara mengintervensi ekonomi. Apakah negara terlibat begitu dalam dalam perekonomian (big government) atau membiarkan pasar bekerja sendirian (market mechanism).

Sumber : Ponzi Ekonomi, A. Prasetyantoko, hal : 49-53




0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)