Jumat, 30 Agustus 2013 - 22:46:50 WIB
Hati Dibanjiri Cinta
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 913 kali

Remi berusia 2,5 tahun ketika pada suatu hari ia bertanya kepada saya, Mama, apakah Mama sedang marah?

Tidak, Mama tidak marah, jawab saya dengan tenang

Ia mengulangi pertanyaan yang sama dua kali, dan setiap kali ia bertanya, saya bersikeras bahwa saya tidak sedang marah.

Beberapa hari kemudian, ia bertanya lagi apakah saya sedang marah dan saya meyakinkannya bahwa saya tidak marah. Kedua kali ia mengulangi pertanyaan itu, saya berpikir : Mengapa Remi terus bertanya seperti ini? Apakah ia merasakan atau melihat sesuatu yang tidak saya lihat atau rasakan? Saya pikir itu agak aneh karena scenario yang sama selalu berulang.

Dalam usaha saya untuk membesarkan putra saya dengan cara yang paling jujur, saya tahu bahwa saya harus menjadi teladan yang baik. Jadi, saya bertanya kepada diri saya sendiri untuk mengetahui perasaan saya. Hati saya memang sedang kesal. Rasanya ada pertempuran atau badai yang terjadi di dalam hati saya dan kekesalan itu seperti memukul-mukul dinding hati saya. Saya kemudian membantahnya : Tidak mungkin Remi merasakan apa yang terjadi di dalam hati karena saya tidak memperlihatkan perasaan itu. Suara saya tenang dan saya tidak menunjukkan tanda-tanda kegusaran!

Sebagai orang yang ekstrover, saya belajar mengelola ekspresi kemarahan yang saya rasakan. Saya mampu mengontrol nada suara dan memilih kata-kata yang tepat yang menurut saya lumayan juga. Namun sekarang, pertanyaan yang dilontarkan oleh anak saya itu membuat saya bingung.

Semua ini terlintas dalam pikiran saya selama beberapa detik setelah putra saya bertanya untuk kedua kalinya apakah saya sedang marah. Saya perhatikan saya telah membantahnya tiga kali ketika ia menanyakannya pertama kali beberapa hari yang lalu. Sesuai dengan dorongan untuk bersikap jujur, saya merunduk, menatap mata Remi dan mengaku : Remi, kamu benar. Hati Mama memang sedang kesal tetapi tidak padamu. Mama menyayangimu. Saya lalu memeluknya dan hati saya seperti dibanjiri oleh cinta.

Saya heran dengan wawasan yang dimiliki oleh anak yang berusia 30 BULAN ini karena ia mampu membaca suasana hati saya dan merasakan perasaan yang terpendam. Saya sadar bahwa ia telah membimbing saya untuk memerhatikan hati saya dan bersentuhan dengan perasaan saya. Saya sangat memahami bahwa menjadi orangtua berarti mendapatkan pengalaman belajar dan mengajar tentang hubungan. Saya sangat berterimakasih atas pengalaman ini yang membuat saya menitikan air mata. Saya sangat menikmati masa-masa bersamanya.

Sumber : An Indigo Celebration, Lee Carroll & Jan Tober, hal : 75-76






0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)