Jumat, 04 September 2013 - 22:46:50 WIB
Bigger isn't always better
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 803 kali

Gagasan tentang PERTUMBUHAN tidak harus selalu bersinonim dengan MENJADI LEBIH BESAR. Pertumbuhan adalah bergerak maju, melampaui tembok-tembok yang selama ini membatasi dan mengekang bisnis.

Pertumbuhan yang solid adalah tantangan bagi banyak bisnis. Sudah terlalu banyak yang mengejar pertumbuhan lewat merger, perampingan, manipulasi harga saham, dan kadang, kecurangan yang terang-terangan. Yang harus diraih adalah pertumbuhan sejati, bukan pertumbuhan rekaan para akuntan.

Di dunia dimana hampir setiap bisnis tampaknya terperangkap dalam perjuangan mati-matian menuju ukuran super, kita perlu jeda untuk memikirkan kembali apa sebenarnya pertumbuhan sejati itu. Seringkali pertumbuhan dicampuradukan dengan salah satu produk sampingannya yaitu ekspansi. Menjadi lebih besar adalah salah satu produk sampingan pertumbuhan, tetapi bukan tujuan utamanya. Bisnis yang mengambil jalan pintas, yakni mengejar ukuran secara instan dan bukannya mewujudkan hal itu lewat kerja keras pertumbuhan sejati, ibarat altet yang mengonsumsi steroid untuk memperbesar otot.

Ukuran sedikit mirip dengan kepercayaan diri. Akan sangat melegakan jika ukuran besar diperoleh sebagai produk sampingan dari cita-cita seseorang yang dikerjakan dengan baik dan tercapai. Bila diperoleh dengan cara ini, ukuran yang besar dapat menggerakan kincir kesuksesan lainnya. Akan tetapi, kepercayaan diri yang muncul dari optimism membuta serta upaya menutup-nutupi kegagalan sangatlah rapuh dan lemah. Kepercayaan diri semacam ini lebih banyak ruginya dibanding untungnya.

Lebih besar tidak selalu lebih baik. Ukuran yang besar biasanya hanya berisi gelembung dan intimidasi bisnis. Bahkan, ukuran bisa menjadi boomerang. Focus sempit pada bisnis yang menjadi lebih besar saja biasanya berdampak negative. Perusahaan yang berhasil mencapai ukuran terlalu besar akan segera menyadari bahwa lingkungan tidak lagi ramah, sumber daya berkurang drastic, dan organisasi menjadi kurang efektif.

Kesamaan yang dimiliki oleh orang-orang yang berada dalam perusahaan yang lebih mengejar pertumbuhan adalah minat yang lebih besar untuk membangun daripada mempertahankan. Mereka semua memiliki pola pikir yang sama yaitu pola pikir seorang penumbuh.

Apakah pola pikir itu? Pola pikir adalah cara anda berpikir tentang apa yang sedang anda lakukan. Pola pikir adalah system logika internal anda, model dunia yang anda bawa di kepala. Pola pikir anda melahirkan keyakinan dan asumsi anda. Pola pikir anda menentukan fakta apa yang anda perhatikan dan apa yang anda hasilkan dari fakta-fakta itu. Bahkan yang lebih penting lagi, pola pikir menentukan apa yang anda lakukan sebagai akibat.

Pertumbuhan adalah permainan pola pikir. Disinilah peningkatan sejati terjadi. Inilah permainan di mana setiap gerakan memperhatikan kesempatan yang hanya dilihat orang lain sebagai rintangan, mengubah bukaan-bukaan ini menjadi cita-cita pertumbuhan, kemudian mengumpulkan dukungan dari lingkungan sekitar. Inilah permainan keterusterangan yang kejam tentang situasi bisniss saat ini dan rangsangan emosional tentang prospeknya di masa yang akan datang. Inilah permainan momentum dan daya tahan, dimana pemain terbaik tahu kapan harus pindah gigi serta kapan harus berbagi kekayaan.

Pertumbuhan adalah zona bebas narsisme. Mampu melangkah mundur dari ego pribadi anda, citra pribadi anda, adalah cara terbaik untuk mengungkap kesempatan baru dan mengubah arah jika situasi mengharuskan. Ini adalah kemampuan yang dimanfaatkan secara jitu oleh Herb Kelleher dari Southwest Airlines dan Jack Welch dari GE.

Pertumbuhan pada dasarnya adalah sebuah gagasan bebas : tidak dibatasi oleh perilaku, pandangan, atau dogma yang mapan atau tradisional; lebih menyukai usulan reformatif, terbuka pada gagasan baru, berwawasan luas dan toleran terhadap gagasan serta perilaku orang lain. Inilah cirri khas orang yang dapat menggerakan organisasi melampaui batas-batas yang ada. Mereka wajib memiliki ketrampilan untuk mengajak para penentang ikut bertaruh pada kemungkinan itu, mewujudkannya tanpa anggaran untuk melakukan hal tersebut, membangun momentum lewat serangkaian kemenangan kecil, melakukan koreksi di tengah jalan, dan bangkit kembali dari kemunduran.

Sumber : Bigger is not always better, Robert M. Tomasko, hal : xi-xvii






0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)