Jumat, 13 September 2013 - 22:46:50 WIB
From Competing to Collaborating
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 21539 kali

Terbersit sejumlah pertanyaan yang berkecamuk dalam benak saya ketika menyaksikan berbagai fenomena di sekitar kita. Terus terang, saya terkesiap. Ada apa dengan dunia ini? Sudah sedemikian uzurkah dunia kita sehingga seolah-olah telah kehilangan akal sehat?

Betapa tidak. Ada begitu banyak orang yang menjadi sangat serakah untuk menimbun kekayaan bagi dirinya sendiri. Mengapa mereka melakukannya, bahkan dengan cara apapun? Mengapa mereka bisa hidup secara berlebihan tanpa merasa perlu berbagi dengan orang lain di sekitarnya yang hidup secara amat mengenaskan? Mengapa hedonism, konsumerisme, materialism, dan individualism bisa tumbuh subur menjadi gaya hidup?

Mengapa, mengapa, dan mengapa. Saya coba merenung dan berbagi dengan anda. Bagi saya, penyebab paling mendasar dan paling masuk akal dari semua ini adalah budaya kompetisi yang dijalankan secara TIDAK proporsional. Praktik budaya yang terlanjur mapan ini sedemikian mengagungkan kemenangan yang pada kenyataannya diartikan secara sempit sebagai keberhasilan mengalahkan pihak lain, apapun caranya. Akibatnya dunia pun terbelah menjadi dua kubu : pemenang versus pecundang. Dan bisa dipastikan bahwa tidak seorangpun mau menjadi pecundang.

Saya menawarkan nilai dan budaya alternative dari kompetisi, yaitu kolaborasi. Kolaborasi mengungguli kompetisi dalam berbagai aspek untuk meningkatkan dimensi kemanusiaan kita. Kolaborasi memiliki dimensi kemanusiaan yang lebih positif daripada kompetisi. Di satu sisi, saya tidak mengerti, mengapa sampai detik ini masih ada begitu banyak orang yang lebih menyukai kompetisi daripada kolaborasi. Mungkin, kompetisi lebih dapat MEMANJAKAN naluri keserakahan kita daripada kolaborasi. Namun disisi lain, saya sedikit berlega hati karena akhir-akhir ini semakin banyak kolaborasi antarkorporasi, seperti terjadi di bisnis telekomunikasi, perbankan, dan sebagainya, walaupun dilakukan masih dengan semangat untuk meningkatkan keunggulan diri.

Dengan semakin kompleksnya masalah diseputar kita, mulai dari persoalan social kemanusiaan sampai politik ekonomi, tidaklah berlebihan menaruh harapan besar pada nilai kolaborasi. Melihat akibat yang ditimbulkan oleh kompetisi, seperti meningkatnya ego pribadi atau kelompok, munculnya manusia penyerang, rusaknya nilai-nilai luhur kemanusiaan, meningkatnya keserakahan manusia, kebanggaan dan arogansi pada yang menang, meningkatkan nafsu mengalahkan dan menyerang orang lain, potensi bahaya dari zero sum game dalam dunia bisnis, dan sebagainya, kita memang harus berbuat sesuatu.

Kita perlu meninggalkan cara berpikir yang sempit dan membiasakan diri berpikir secara holistic, secara system, demi kepentingan bersama. Dibanding kompetisi, kolaborasi lebih menjanjikan keberhasilan bersama yang berkesinambungan. Sebab dalam kolaborasi, semua orang adalah partner yang sama-sama memberi kontribusi penting untuk mencapai keberhasilan sejati, keberhasilan yang dirasakan oleh seluruh pemangku kepentingan. Inilah pilihan strategi terbaik yang akan meningkatkan kualitas kemanusiaan kita dan pasti lebih bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang banyak.

Sumber : From competing to collaborating, JeDe Kuncoro, Penerbit Gramedia






0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)