Kamis, 26 September 2013 - 22:46:50 WIB
Back to City
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 120149 kali

Kini generasi yang lebih muda semakin malas membayangkan hidup di wilayah pinggiran. Enggan membayangkan bagaimana capeknya di jalan. Mereka tak mau membuang waktu enam jam sehari hanya untuk menunggu mobil di depannya jalan duluan mengurai kemacetan.

Lagi pula, pemukiman menengah ke bawah di pinggiran kota identik dengan citra negative. Misalnya, lingkungan yang kumuh dan rawan demam berdarah. Kawasan yang jadi langganan maling. Mulai maling jemuran sampai sindikat pencuri mobil dan perampok. Kawasan pemukiman di pinggiran kota juga identik dengan kultur yang tak sehat. Ibu-ibu yang suka ngerumpi. Menjadi sasaran salesman door to door, dan seterusnya.

Itulah sebabnya, generasi masa depan lebih menyukai tren back to city. Mengapa muncul trend kembali berdomisili di kota? Inilah alasan-alasan yang paling masuk akal :

Pertama, lingkungan yang lebih baik, adanya kebutuhan akan ketersediaan lingkungan yang lebih baik dalam hal kesehatan, social, budaya maupun gaya hidup. Kedua, dekat dengan pusat aktivitas dan fasilitas layanan umum. Ketiga, waktu perjalanan ke kantor dan pusat-pusat aktivitas menjadi jauh lebih singkat (artinya : stress berkurang, penat hilang, ada kemungkinan umur bertambah panjang).

Keempat, kalau waktu perjalanan bisa dihemat, berarti waktu untuk hal-hal lain akan bertambah, misalnya untuk memberi perhatian lebih banyak pada keluarga, mengerjakan hobi, bersosialisasi, dll.

Kelima, menghemat BBM yang kian langka dan mahal. Keenam, mengurangi emisi karbon, bukan hanya perusahaan-perusahaan besar saja yang musti peduli lingkungan kita sebagai individu juga harus peduli terhadap kelangkaan sumber-sumber energy fosil dan efek pemanasan global. Ketujuh, mengurangi kemacetan lalulintas di jam-jam sibuk termasuk di jalan tol.

Anyway, tinggal di pusat kota akan lebih prestise daripada di pinggiran!

Tak semua orang cocok membeli apartemen. Ketika seseorang membeli apartemen, ia memiliki sekurang-kurangnya satu dari dua tujuan. Pertama, untuk ditempati sendiri. Kedua, sebagai investasi.

Bila tujuannya untuk ditempati sendiri, maka pembeli apartemen adalah orang yang menyukai kepraktisan, sanggung beradaptasi dengan gaya hidup metropolis yang individualistic, dapat hidup mandiri tidak tergantung pada kerabat, tetangga, atau lingkungan sekompleks, dan tak begitu cocok dengan kehidupan social bila tinggal di kampong atau perumahan semisal kewajiban ronda malam, arisan dll.

Kalau tujuannya adalah untuk investasi, maka pembeli apartemen adalah orang yang konservatif menyukai instrument investasi yang aman atau beresiko kecil, senang memperoleh pendapatan sewa dari unit apartemennya, tidak pusing dengan kerewelan penyewa, atau tetekbengek menyangkut pemeliharaan unit apartemen, suka mengikuti perkembangan harga property maupun perkembangan suatu wilayah/kawasan, dan memiliki komunitas orang-orang yang sama-sama suka berinvestasi di property.

Sumber : Beli Apartemen Pakai Duit Orang Lain, William Tanuwidjaya, hal : 3-5






0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)