Sabtu, 13 September 2014 - 10:00:13 WIB
Ke-ratu-an = Kraton
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 11512 kali

Bagi rakyat Jawa keraton itu bukan hanya suatu tempat politik dan budaya, keraton merupakan pusat keramat kerajaan. Keraton adalah tempat raja bersemayam dan raja merupakan sumber kekuatan-kekuatan kosmis yang mengalir ke daerah dan membawa ketentraman, keadilan dan kesuburan.

Keraton ialah tempat bersemayam ratu-ratu, berasal dari kata ke-ratu-an = keraton. Disebut juga kedaton, yaitu ke-datu-an = kedaton, tempat datu-datu atau ratu-ratu. Dalam bahasa Indonesia disebut istana. Jadi keraton ialah sebuah istana yang mengandung arti keagamaan, arti filsafat dan arti cultural.

Pada waktu kerajaan Mataram baru saja berdiri Sutawijaya alias Senapati dikenal dengan gelarnya Panembahan. Panembahan berasal dari kata sembah, jadi panembahan berarti yang disembah atau yang menerima sembah.

Tahun 1625 raja Mataram bergelar Susuhunan. Susuhunan berasal dari kata suhun (dialek Jogja suwun) yang berarti pundi. Jadi susuhunan berarti yang dipundi (ditaruh di atas kepala). Yang disembah dan yang dipundi mengandung kehormatan atau penghormatan yang sama.

Tahun 1641 raja Mataram mulai bergelar Sultan. Sultan merupakan gelar yang berasal dari bahasa Arab, gelar ini dirasa atau tampak lebih terhormat. Gelar sultan member makna bahwa raja Ngayogyakarta Hadiningrat bukan hanya menekankan aspek ketuhanan saja tetapi menekankan pula aspek keduniaan. Dengan kata lain sultan adalah seorang khalifah yang harus menyeimbangkan hubungan antara hablumniallah dan habluminannas, dan tercermin dalam gelar yang disandangnya yakni : NGARSO DALAM SAMPEYAN DALEM INGKANG SINUWUN KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWONO SENOPATI ING NGALOGO NGABDURAHMAN SAYIDIN PANOTOGOMO KALIFATULLAH INGKANG JUMENENG ING NGAYOGYAKARTA HANININGRAT.

Dalam melaksanakan fungsi, kedudukan, tugas dan tanggung jawab tersebut, seorang sultan senantiasa bernaung di bawah kebesaran Asma Allah yang disimbolkan dalam bentuk dan wujud Songsong Gilap yang memiliki 99 bilah jari-jari bertuliskan Asma’ul Husna terangkai dalam satu ikatan sebagai pegangannya, Allahu Akbar.

Disamping itu, dalam nama Hamengku Buwono, senantiasa terkandung pengertian tiga substansi Hamangku, Hamengku, dan Hamengkoni. Hamengku identik dengan Hambeg Adil Paramarta, yakni mengandung makna hangrengkuh hangemong, melindungi, dan mengayomi secara adil tanpa membedakan golongan, keyakinan dan agama. Hamangku identik dengan berbudi bawa leksana, yakni mampu membesarkan hati dengan lebih banyak member daripada menerima. Hamengkoni identik dengan suritauladan dan berdiri paling depan untuk mengambil tanggung jawab dan berdiri paling depan untuk mengambil tanggung jawab dengan segala resikonya.

Sumber : Daerah Istimewa Yogyakarta, Ni’matul Huda, Nusamedia, Hal : 131-133




0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)