Sabtu, 18 Oktober 2014 - 10:00:13 WIB
Mitos x demistifikasi Pembangunan
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 23218 kali

Menurut Tjokrowinoto (1996) proses pembangunan yang berlangsung di banyak negara berkembang selama ini diwarnai oleh mata rantai pemithosan dan demistifikasi paradigma pembangunan yang mendasari proses tersebut. Paradigma pembangunan yang pada suatu waktu tertentu menjadi acuan pembangunan nasional dapat mengalami demistifikasi, sementara paradigma-paradigma baru timbul menggantikan ataupun menjadi komplemennya. Melalui proses ini, timbullah pergeseran-pergeseran paradigma pembangunan yang merentang dari paradigma pertumbuhan atau paradigma ekonomi murni, paradigma kesejahteraan, paradigma pembangunan manusia sampai paradigma pembangunan berkelanjutan.

Paradigma pertumbuhan nampaknya tetap menjadi paradigma yang dominan di banyak negara. Paradigma ini memandang pembangunan nasional sebagai identik dengan pembangunan ekonomi. Tujuan pembangunan nasional adalah mencapai pertumbuhan ekonomi yang setinggi-tingginya. Pertumbuhan ekonomi dipandang sebagai saving-ratio, capital-output ratio, dan strategi investasi. Peranan pemerintah, dalam hal ini, adalah memperbesar saving ratio setinggi-tingginya, dan menekan capital-output ratio, untuk dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang setinggi-tingginya. Paradigma ini sangat berorientasi pada produksi, fokus dan prioritas utama adalah pada growth-generating sectors. Mekanisme pasar menjadi tumpuan dalam mencapai pertumbuhan ekonomi, (Tjokrowinoto, 1996).

Production-centered developmnet yang berorientasi pada paradigma pertumbuhan yang telah menguasai alam pikiran para perumus kebijaksanaan dan para pakar ini, memiliki karakteristik seperti : (1) berorientasi pada peningkatan taraf hidup yang diukur dari kenaikan nilai ekonomi barang dan jasa yang diproduksi serta kenaikan tingkat konsumsi masyarakat; (2) konsentrasi pemilikan alat-produksi; (3) dominasi mekanisme pasar dalam menentukan jenis, kuantitas dan kualitas barang dan jasa yang diproduksi; (4) optimalisasi pemanfaatan kapital; (5) sistem perencanaan yang sentralistis, (Tjokrowinoto, 1996).

Keberhasilan paradigma pertumbuhan mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, telah membawa berbagai akibat yang negatif. Momentum pembangunan dicapai dengan pengorbanan deteriorisasi ekologis, penyusutan sumber alam yang tidak dapat diperbaharui, timbulnya kesenjangan sosial karena gagal mewujudkan trickledown development, dan menimbulkan dependensi, sehingga kritik-kritik tajam ditunjukan pada paradigma ini. Oleh sebab itu, di banyak negara berkembang kemudian disadari bahwa maksimalisasi pertumbuhan ekonomi tidak lagi menjadi tujuan tunggal dari proses pembangunan. Hal yang dianggap lebih mendesak adalah penciptaan lapangan kerja, mendorong perkembangan sosial, penyebaran distribusi pendapatan dan kesejahteraan yang lebih merata (Rondinelli, 1990).






0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)