Kamis, 20 November 2014 - 10:00:13 WIB
Fashion & Hippies
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 4770 kali

Fashion merupakan sebuah identitas, budaya, gaya hidup dan tindakan social yang disadari ataupun tidak disadari menyebabkan muncul kelas-kelas dalam lapisan social masyarakat yang terkadang memunculkan diskriminasi, perbedaan yang tegas dan penindasan atas sesama.

Fashion menunjuk pada seluruh cara penggunaan suatu karya seni dimana ekspektasi social yang menentukan pilihan-pilihan individual terus-menerus berkembang, dan diharapkan untuk selalu berubah. Setidaknya terdapat lima aspek institusionalisasi fashion massa dalam modernitas yang secara kumulatif menyoroti arti penting sensibilitas. Pertama, bahwa fashion tidak akan ada tanpa keberadaan proses produksi yang menyediakan obyek-obyek dan aktivitas-aktivitas social baru bagi para penggunanya, dan yang menciptakan wacana-wacana terkait dengan kritisisme, publisitas, dan dukungan untuk menjelaskan dan membenarkan inovasi-inovasi. Kedua, bahwa terdapat semiotika dan dramaturgi bagi penampilan yang modis. Ketiga, bahwa fashion dapat merelatifkan cita rasa. Keempat, bahwa fashion menjembatani antara identitas social dan personal. Dan yang terakhir, kelima, bahwa fashion telah dikecam sebagai suatu proses indoktrinasi yang menghilangkan keanekaragaman cara untuk mengartikulasikan ketidaksepahaman maupun kesepahaman, (Chaney, 2004).

Menurut Featherstone (1992) industry budaya menawarkan masa depan budaya pabrik yang diskriminatif dan pengetahuan budaya dari high culture dalam wacana telah berupaya dan menggantikannya dengan budaya massa (the prestige seeker replacing the connoisseur) yang dalam penerimaannya telah diambil alih oleh nilai tukar. Fashion dalam kenyataannya melahirkan diskriminasi yang pada awalnya menggantikan nilai guna (use value) dengan nilai tukar (exchange value) tetapi pada akhirnya juga menggantikan keduanya dengan nilai tanda (sign value).

Fashion ingin menunjukkan tentang SIAPA AKU atau INILAH AKU yang dengan slogannya YOU ARE WHAT YOU WEAR yang semakin menunjukan kekuatan paham faceism atau lookism pada kesadaran ideology manusia. Berbagai perlawanan terhadap mainstream seperti misalnya dalam fashion memunculkan adanya budaya perlawanan (counter culture) yang melahirkan berbagai kelompok social masyarakat yang baru seperti alternative society dan kaum Hippies.

Hippies dimaknai ketika seseorang dapat merasa sangat menikmati hidup, bersatu dengan alam, bersifat natural, dan tidak banyak berpikir tentang konsumsi. Mereka juga tidak terikat pada system dan budaya konsumsi (consumer culture), memperoleh uang dan menjadi tergantung padanya.

Sumber : Budaya Barat dalam Kacamata Timur, Pande Made Kutanegara dkk., Pustaka Pelajar, hal : 189-195






0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)