Sabtu, 15 Juni 2013 - 22:46:50 WIB
Melacak Evolusi Kosmos
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Cuplikan Buku - Dibaca: 16174 kali

Sir Martin Rees, salah seorang teoritikus evolusi kosmos terkemuka dan penulis Before the Beginning : Our Universe and Others berbincang dengan Science Times sambil makan siang di kafetaria Institute for Advanced Study di Princeton, New Jersey.

Nietzsche pernah menulis : Bila kau menatap cukup lama ke jurang yang dalam, jurang itu akan balik menatapmu.” Kalau Sir Martin Rees, menatap jurang itu, apa yang dilihatnya?

Tindakan itu memberikan perspektif yang agak berbeda tentang skala waktu. Dari astronomi, orang mempelajari rentang waktu sangat lama yang terlibat dalam evolusi jagat raya- milyaran tahun. Dan bagi saya, kesadaran yang jauh lebih penting adalah bahwa kita masih berada pada awal evolusi jagat raya, bukan puncaknya. Matahari pun masih belum menghabiskan separuh umurnya. Inilah yang seharusnya membuat kita merasa bagian dari tatanan alam, bukan puncaknya.

Apa yang pernah ditulis D.H. Lawrence? “Aku adalah bagian dari matahari sebagaimana mataku adalah bagian dari diriku. Kakiku tahu betul bahwa diriku adalah bagian dari bumi dan darahku bagian dari samudra.” Dan pemahaman itu berujung pada pertanyaan, Apakah kehidupan seperti yang kita tahu ini hanya ada di bumi?

Yang saya lakukan adalah mencoba memahami bagaimana jagat raya kita berevolusi dari awal yang sederhana menjadi kosmos kompleks yang kita lihat di sekeliling kita, di mana kita sendiri menjadi bagiannya yang penting.

Saat berbincang perihal astrofisika, kebanyakan orang akan bingung karena jagat raya terlalu kompleks untuk dipahami. Mengapa orang-orang awam perlu mengetahui astrofisika?

Karena ada keingintahuan mengenai asal usul kita, dan astrofisika adalah kuncinya. Kalau kita ingin memahami pertanyaan sehari-hari seperti, dari mana asal atom-atom yang menyusun tubuh kita?, kita harus memahami bintang. Apakah Sang Pencipta memencet 92 tombol untuk membuat beragam unsure? Atau, adakah alasan mengapa bumi mengandung banyak karbon, oksigen, dan besi, namun kurang mengandung emas dan uranium?

Penjelasannya adalah bahwa semua atom dulu berada dalam sebuah bintang. Ketika galaksi Bima Sakti kita terbentuk pertama kali sekitar 10 milyar tahun yang lalu, galaksi itu tersusun dari atom-atom yang paling sederhana : hydrogen dan helium.

Kemudian, bintang-bintang pertama terbentuk dan bahan bakar nuklir yang membuat bintang-bintang itu bersinar mengubah hydrogen menjadi helium melalui fusi nuklir, dan kemudian mengubah helium menjadi atom-atom lain : karbon, oksigen, dan atom-atom lain dalam table periodic.

Lalu bintang-bintang itu kehabisan bahan bakar, meledak, menghamburkan semua pecahannya ke dalam ruang antar bintang dan selanjutnya memadat menjadi bintang-bintang baru. Salah satunya adalah matahari kita.

Jadi, benar penyair yang bersenandung, Engkaulah matahari dan bulan dan bintang.

Kita adalah DEBU-DEBU bintang purba yang mati. Atau, kalau anda menginginkan istilah yang kurang romantic, kita adalah LIMBAH NUKLIR.

Kadang kala orang bertanya kepada saya, Apakah terlalu berlebihan untuk berpikir bahwa kita dapat memahami apa saja sebagai bintang, atau galaksi, atau dentuman besar?

Saya akan menjawab bahwa yang membuat sesuatu sulit dipahami bukan besarnya, malainkan kerumitannya. Dalam sebuah bintang, segalanya pecah menjadi penyusun-penyusun yang paling sederhana. Demikian juga dalam Dentuman Besar (Bing Bang).

Disisi lain, jauh lebih rumit memahami organism hidup yang paling sederhana. Yang terindah dalam jagat raya ini adalah kehidupan, dan itulah fenomena paling rumit yang pernah kita ketahui.

Saya selalu takjub saat mempelajari awal yang sederhana ini. Jangankan mengerti bagaimana pelbagai unsure kimia ini diciptakan, kita saja belum tahu bagaimana unsure itu terbentuk menjadi sesuatu yang cukup rumit untuk bisa berkembang menjadi kehidupan.

Alasan lain mempelajari jagat raya adalah itulah cara yang murah untuk memahami dan menguji hokum-hukum alam yang mendasari dalam kondisi-kondisi esktrim. Kita tidak bisa meniru gravitasi yang kuat atau proses fisika Dentuman Besar di laboratorium. Dengan demikian, para astronom dapat melengkapi pengetahuan yang diperoleh para ilmuwan yang mempelajari bumi tentang hokum-hukum fundamental.

Kalau anda diminta menebak hasil dari pencarian-pencarian kehidupan di luar bumi, apa tebakan anda?

Saya pikir kemungkinan ada kehidupan yang cerdas di tempat lain sangatlah kecil, namun saya tetap bersemangat untuk mencarinya. Sebenarnya saya lebih senang apabila ternyata tidak ada kehidupan lain di luar sana. Kalau kehidupan itu hanya ada di bumi, kehidupan itu memberikan arti penting kosmis sesungguhnya bagi bumi, sekalipun ukurannya kecil.

Lebih jauh lagi, apabila kita juga mengakui bahwa bumi dan tata surya kita ini masih jauh dari puncak evolusinya, kita bisa membayangkan bahwa spesies keturunan kita nanti akan mampu berkembang biak di seluruh galaksi.

Di depan kita masih ada rentang waktu yang sama panjangnya dengan yang telah dilalui evolusi sampai saat ini. Jadi, dalam skala waktu itu, kehidupan bisa saja menyebar dari bumi. Saya pikir keunikan ini akan memberikan alasan tambahan kepada kita untuk memperhatikan ekologi dalam arti bahwa jika kehidupan nantinya akan tergusur dari bumi, berarti kita sedang menghancurkan potensi-potensi kosmis yang asli.

Anda pernah mengalami kebuntuan teori?

Ya. Dan cara saya mengatasinya adalah mengerjakan beberapa topic sekaligus. Sekarang saya sedang mengerjakan tiga atau empat topic. Rentang perhatian saya agak pendek dan apabila ada salah satu yang terganggu, saya beralih ke topic lainnya. Saya juga sering menelusuri dua interpretasi yang bertentangan atas sebuah fenomena secara bersamaan.

Ada ungkapan yang popular dalam profesi anda, seorang teoritikus bisa salah, namun tak pernah ragu. Pernahkan anda salah?

Sering. Kalau anda tidak pernah salah, berarti anda kurang berani. Saat sebuah fenomena baru ditemukan, tentu saja anda hanya memiliki data yang terbatas. Sungguh luar biasa jika tebakan pertama anda tepat. Saya pikir anda harus setuju bahwa semua pengetahuan kita bersifat sementara.

Beberapa waktu belakangan ini mencuat klaim-klaim yang menarik bahwa ekspansi alam semesta mengalami percepatan. Apa artinya bagi teori astronomi?

Kita sedang berusaha memutuskan apakah alam semesta ini akan terus berkembang selamanya, atau akhirnya akan saling bertrabrakan dalam sebuah benturan besar. Bukti-bukti mendukung adanya ekspansi yang terus-menerus.

Yang lebih menarik adalah klaim bahwa ekspansi ini berlangsung semakin cepat. Klaim ini menyiratkan adanya gaya tolak bahkan di ruang hampa, sebagaimana yang diramalkan Einstein ketika mempostulasikan konstanta kosmologi. Saya percaya terhadap ketidakterbatasan beragam alam semesta yang benar-benar ada, dan kita bisa menemukan diri kita dalam salah satu alam semesta yang hokum-hukumnya memungkinkan adanya kehidupan.

Sumber: Sains bukan Sihir; Claudia Dreifus; hal: 3-11






1 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)